Ia mengatakan masih banyak potensial pasar baru yang porsinya saat ini masih kecil terhadap ekspor Indonesia. Pakistan, menurutnya, bisa dijajaki karena saat ini negara tersebut masih memiliki bonus demografi dengan jumlah penduduk relatif tinggi seperti Indonesia, pertumbuhan perekonomiannya tidak terlalu jelek, dan mayoritas penduduknya Muslim. Menurutnya, berbagai kesamaan dengan Indonesia tersebut bisa dimanfaatkan.
Yusuf juga mengatakan negara-negara di Afrika Utara seperti Mesir perlu dijajagi mengingat pangsa pasar ekspor Indonesia ke wilayah itu masih kecil. Dengan begitu, katanya, perlahan namun pasti pangsa pasar ekspor Indonesia ke China bisa diturunkan secara bertahap.
Di sisi lain, Yusuf juga menilai bahwa surplus neraca perdagangan yang terjadi kali ini bukan berarti pertanda baik. Pasalnya, selain ekspor, impor juga dilaporkan mengalami penurunan. Permasalahannya adalah impor yang dilakukan Indonesia, sebanyak 50 persen diperuntukkan untuk kebutuhan bahan baku industri.
“Jadi ketika misalnya impornya turun berarti kebutuhan bahan bakunya turun. kebutuhan bahan baku turun menggambarkan bahwa aktivitas produksi industri di dalam negeri sedang mengalami perlambatan. Dan ini sebenarnya terkonfirmasi dengan data-data yang berkaitan dengan industri seperti PMI yang di beberapa bulan sebelumnya berada pada level kontraktif, di bawah 50. Jadi menurut kami surplusnya ini memang tidak sepenuhnya baik karena ekspornya turun tetapi impornya lebih turun dan impor yang turun ini menggambarkan bahwa ekonomi tengah berada pada fase perlambatan,” pungkasnya. [Red]#VOA








