Dalam negara demokrasi, tambah Titi, suara perempuan mutlak terwakili. Perempuan bukan hanya penting hadir sebagai representasi konstituen, tapi juga keterwakilan gagasan dan ide yang menyangkut kepentingan langsung perempuan. Banyak hal yang akan lebih baik jika disuarakan oleh wakil-wakil rakyat perempuan, misalnya soal hak reproduksi atau persoalan kesetaraan dan kebijakan lain.
Titi mengatakan konsolidasi pemilih perempuan diyakini akan menghasilkan lebih banyak wakil perempuan di berbagai jabatan publik yang dipilih dalam pemilu. Oleh karena itum penting untuk mensosialisasikan caleg perempuan dengan memilih mereka yang memiliki kredibilitas, kualitas dan rekam jejak yang baik.
Pemilih perempuan, tambah Titi, bukan individu tunggal yang seragam dan tanpa nilai. Pemilih perempuan juga dipengaruhi banyak kepentingan seperti pandangan agama, lingkungan sosial, politik, budaya, ataupun ekonomi.
Saat publik mendorong peningkatan keterwakilan perepuan, partai politik sedianya juga bekerja cepat melakukan kaderisasi, regenerasi, dan pendidikan politik bagi angota dan perempuan kader partai politik. Keberadaan caleg perempuan perempuan di setiap partai politik tidak boleh sekedar pelengkap untuk memenuhi syarat sebagai peserta pemilihan umum, papar Titi menutup pembicaraan. [Red]#VOA









