“Sekali lagi, kita pantau dari dekat, kita waspada, dan kita terus melakukan upaya diplomatik, agar masing-masing pihak menjaga, menahan diri, self restraint, dan kita mencoba untuk bicara dengan sebanyak mungkin pihak untuk menggunakan pengaruhnya agar eskalasi tidak terjadi,” tandasnya.
Ekonom CORE Indonesia Muhammad Faisal mengatakan dalam jangka pendek, dampak yang akan dirasakan akibat konflik Iran-Israel ini adalah melambungnya harga minyak dunia yang diperkirakan bisa tembus USD100 per barel apabila konflik ini berkepanjangan. Sebagai informasi, saat ini harga minyak brent telah menyentuh level USD90 per barel.
Konsekuensi dari naiknya harga minyak dunia ini, kata Faisal, adalah naiknya harga BBM di dalam negeri baik untuk BBM yang tidak disubsidi maupun BBM yang disubsidi. Selain itu, menurutnya, hal ini juga akan meningkatkan tingkat inflasi global.
“Ini akan mempengaruhi inflasi, inflasi akan meningkat sebagaimana di tahun 2022. Bukan hanya menyangkut pada inflasi BBM saja tetapi merembet pada bahan pangan dan lain-lain. Artinya itu akan mempengaruhi daya beli masyarakat terutama kalangan menengah ke bawah dan mempengaruhi pertumbuhan ekonomi,” ungkap Faisal.
Guna merespons hal tersebut, katanya, pemerintah harus melakukan kebijakan fiskal dan moneter yang lebih akomodatif dan memperhatikan dampaknya bagi perekonomian dalam negeri, terutama untuk kalangan masyarakat menengah ke bawah.
“Artinya dari sisi fiskal berarti kebijakannya harus lebih akomodatif, tidak ketat karena sebelum ada konflik ini, kebijakan fiskal sinyalnya sudah mengarah kepada pengetatan fiskal terutama di bawah pemerintah baru kita dengar ada rencana penambahan cukai, kemudian rencana kenaikan PPN menjadi 12 persen. Jadi artinya standpoint pemerintah yang sudah mau melakukan pengetatan fiskal, dengan kondisi yang terbaru ini semestinya pemerintah harus menimbang ulang untuk menaikkan dari sisi penerimaan dan juga mengurangi subsidinya karena kalau itu dilakukan akan semakin menekan lagi perekonomian masyarakat dan pertumbuhan ekonomi,” jelasnya.
Sementara dari sisi moneter, Faisal berharap, Bank Indonesia (BI) mempertimbangkan untuk menahan kenaikan suku bunga acuan, karena hal ini akan menekan sektor riil di dalam negeri. [Red]#VOA








