Juru bicara Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Christian Lindmeier mengatakan beberapa orang yang berada dalam konvoi tersebut tidak bisa berjalan, “namun semuanya dipaksa keluar dari ambulans.”
“Anda dapat bayangkan berada dalam konvoi medis dalam kondisi yang membahayakan nyawa, dan tidak bisa bergerak ataupun dapat bergerak dan dipaksa menunggu di luar [ambulans] selama tujuh jam, itu sungguh kondisi yang tak terbayangkan,” ujarnya.
Rumah Sakit Al Amal telah menjadi pusat dari operasi militer di Khan Younis selama lebih dari satu bulan. WHO melaporkan bahwa sebanyak 40 serangan terjadi di rumah sakit tersebut sejak 22 Januari hingga 22 Februari, di mana serangan serangan-serangan itu telah menewaskan 25 orang dan membuat rumah sakit tidak berfungsi.
Saat ini, terdapat 215 orang yang masih berada di rumah sakit, termasuk 31 pasien, petugas medis, paramedis, supir ambulans, delapan orang dokter dan 10 perawat.








