Netanyahu Incar Iran setelah Taklukkan Hamas, Hizbullah, dan Suriah

  • Whatsapp
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu memberikan pidato pada upacara penghormatan bagi perwira tempur militer di pangkalan militer dekat Mitzpe Ramon, Israel, 31 Oktober 2024. (Foto: Reuters/Amir Cohen)

“Iran berada dalam posisi yang sangat rentan terhadap serangan Israel, terutama terkait program nuklirnya,” ujar Joost R. Hiltermann, Direktur Program Timur Tengah dan Afrika Utara di International Crisis Group. “Saya tidak akan terkejut jika Israel melancarkan serangan, tetapi hal itu tidak akan mampu menghilangkan ancaman Iran sepenuhnya.”

“Jika mereka [Iran] tidak mundur, [Donald] Trump dan Netanyahu kemungkinan akan melakukan serangan, karena saat ini tidak ada yang bisa menghentikan mereka,” kata analis Palestina Ghassan al-Khatib. Ia menilai bahwa kepemimpinan Iran, yang sebelumnya menunjukkan sikap pragmatis, mungkin bersedia berkompromi demi menghindari konfrontasi militer.

Bacaan Lainnya
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Trump menarik Amerika Serikat dari perjanjian nuklir 2015 yang melibatkan Iran dan enam negara besar untuk membatasi ambisi nuklir Teheran. Ia diperkirakan akan memperketat sanksi terhadap industri minyak Iran, meskipun banyak kritikus mendorong diplomasi sebagai solusi jangka panjang yang lebih efektif.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, kiri, mengunjungi pasukan Israel di zona penyangga di dalam Suriah, 17 Desember 2024. (Foto: via AP)
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, kiri, mengunjungi pasukan Israel di zona penyangga di dalam Suriah, 17 Desember 2024. (Foto: via AP)

Menentukan Warisan

Di tengah kekacauan di Iran dan Gaza, persidangan korupsi Netanyahu yang dilanjutkan pada Desember akan berperan penting dalam menentukan apa warisannya. Untuk pertama kalinya sejak perang Gaza 2023, Netanyahu hadir dalam proses persidangan yang memecah belah warga Israel.

Dengan berakhirnya 2024, Netanyahu diperkirakan akan menyetujui perjanjian gencatan senjata dengan Hamas untuk menyudahi perang Gaza yang telah berkobar selama 14 bulan. Perjanjian tersebut juga diharapkan dapat membebaskan sandera Israel yang ditahan di daerah kantong tersebut, menurut sumber yang dekat dengan negosiasi.

Namun, Gaza kemungkinan akan tetap berada di bawah kendali militer Israel, kecuali Amerika Serikat memiliki rencana pascaperang yang mengharuskan Israel menyerahkan kekuasaan kepada Otoritas Palestina, yang ditolak Netanyahu. Sementara itu, negara-negara Arab tidak tampak berusaha menekan Israel untuk berkompromi atau mendorong Otoritas Palestina yang sedang lemah untuk memperbarui kepemimpinannya agar dapat mengambil alih.

“Israel akan tetap berada di Gaza secara militer di masa mendatang karena penarikan pasukan apa pun membawa risiko Hamas melakukan reorganisasi. Israel percaya bahwa satu-satunya cara untuk mempertahankan perolehan militer adalah dengan tetap berada di Gaza,” ujar Khatib kepada Reuters.

Bagi Netanyahu, hasil tersebut akan menjadi kemenangan strategis, memperkuat status quo yang sesuai dengan visinya: mencegah terbentuknya negara Palestina sambil memastikan kendali jangka panjang Israel atas Gaza, Tepi Barat, dan Yerusalem Timur, wilayah yang diakui secara internasional sebagai bagian dari negara Palestina pada masa mendatang.

Perang Gaza dimulai ketika Hamas menyerbu Israel pada 7 Oktober 2023, menewaskan 1.200 orang dan menyandera 250 orang, menurut penghitungan Israel. Israel membalas dengan serangan udara dan darat merenggut 45.000 nyawa, menurut otoritas kesehatan setempat, serta mengakibatkan 1,2 juta orang mengungsi dan menghancurkan sebagian besar daerah kantong Gaza.

Meskipun pakta gencatan senjata akan segera mengakhiri permusuhan di Gaza, hal itu tidak akan menyelesaikan konflik Palestina-Israel yang lebih mendalam dan sudah berkecamuk selama puluhan tahun, kata pejabat Arab dan Barat.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *