Nasib Anak-anak di Gaza: Tewas Akibat Bom atau Sekarat karena Kelaparan

  • Whatsapp
Anak-anak Palestina membawa panci saat mengantri untuk menerima makanan yang dimasak oleh dapur amal, di tengah kekurangan persediaan makanan di Rafah di selatan Jalur Gaza 14 Desember 2023. (Foto: REUTERS/Saleh Salem )

Ketika militer Israel mengatur pengiriman makanan ke Kota Gaza pekan lalu, pasukan yang menjaga konvoi tersebut melepaskan tembakan – karena dianggap sebagai ancaman, kata militer – ketika ribuan warga Palestina yang kelaparan mengerumuni truk tersebut. Sekitar 120 orang tewas dalam penembakan tersebut, serta terinjak-injak dalam kekacauan tersebut.

Kondisi Buruk di Gaza Selatan

Bacaan Lainnya
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Yazan al-Kafarna, seorang anak berusia 10 tahun, meninggal pada hari Senin setelah menjalani perawatan selama hampir seminggu yang tidak berhasil di kota Rafah, bagian paling selatan Gaza. Foto-foto anak laki-laki itu menunjukkan bahwa ia sangat kurus, dengan tubuhnya yang seperti ranting dan matanya yang cekung dengan wajah yang mengerut hingga terlihat tulang tengkoraknya.

Al-Kafarna dilahirkan dengan mengidap penyakit Cerebral Palsy, suatu kondisi neurologis yang mempengaruhi keterampilan motorik dan membuat sulit menelan dan makan. Orang tuanya mengatakan mereka kesulitan mendapatkan makanan untuk anaknya, termasuk buah-buahan lunak dan telur, sejak meninggalkan rumah mereka di utara.

Dia meninggal karena pengecilan otot ekstrem yang terutama disebabkan oleh kekurangan makanan, menurut Dr. Jabr al-Shair, kepala unit gawat darurat anak-anak di Rumah Sakit Abu Youssef Najjar.

Dalam beberapa hari terakhir, sekitar 80 anak penderita gizi buruk memadati bangsal rumah sakit. Aya al-Fayoume, seorang ibu berusia 19 tahun yang mengungsi ke Rafah, membawa putrinya yang berusia tiga bulan, Nisreen, yang berat badannya turun drastis selama musim dingin, menderita diare dan muntah-muntah. Karena pola makannya yang sebagian besar berupa makanan kaleng, al-Fayoume mengatakan produksi ASInya tidak cukup untuk Nisreen.

Persediaan makanan segar di Rafah menyusut, sementara populasinya membengkak menjadi lebih dari satu juta jiwa dan mengakibatkan pengungsi. Makanan utama yang tersedia adalah makanan kaleng, yang sering ditemukan dalam paket bantuan.

Warga Palestina antre untuk mendapatkan makanan gratis di Rafah, Jalur Gaza, Jumat, 16 Februari 2024. (Foto: AP)
Warga Palestina antre untuk mendapatkan makanan gratis di Rafah, Jalur Gaza, Jumat, 16 Februari 2024. (Foto: AP)

Di Rumah Sakit Emirat, Dr. Ahmed al-Shair, wakil kepala unit perawatan bayi, menyatakan bahwa kematian bayi prematur baru-baru ini disebabkan oleh kekurangan gizi di kalangan ibu. Malnutrisi dan stres yang ekstrem merupakan faktor yang memicu kelahiran prematur dan bayi dengan berat badan rendah, dan para dokter mengamati bahwa kasus-kasus semacam itu meningkat selama masa konflik, meskipun PBB tidak memiliki statistik resmi terkait hal ini.

Al-Shair mengatakan bayi prematur dirawat selama beberapa hari untuk memperbaiki berat badannya. Namun kemudian mereka diperbolehkan pulang. Sayangnya, hunian mereka seringkali hanya berupa tenda dengan pemanas yang tidak cukup, bersama bu-ibu yang mengalami kekurangan gizi hingga sulit menyusui dan di sisi lain, susu formula juga sulit didapat. Kadang-kadang orang tua memberikan air putih kepada bayi baru lahir, yang sering kali tidak bersih sehingga menyebabkan diare.

Dalam beberapa hari, bayi-bayi tersebut “dibawa kembali kepada kami dalam kondisi yang sangat buruk. Beberapa yang dibawa sudah meninggal,” kata al-Shair. Dia mengatakan 14 bayi di rumah sakit meninggal pada Februari dan dua bayi lainnya meninggal pada Maret.

Pada saat ini, ruang rawat rumah sakit menampung 44 bayi yang berusia di bawah 10 hari dengan berat badan minimal 2 kilogram, beberara beberapa membutuhkan bantuan pernapasan. Setiap inkubator memiliki setidaknya tiga bayi prematur di dalamnya, yang meningkatkan risiko infeksi. Al-Shair menyatakan kekhawatirannya bahwa beberapa bayi mungkin akan mengalami situasi yang serupa ketika mereka kembali ke rumah.

“Kami merawat mereka sekarang, tapi hanya Tuhan yang tahu apa yang akan terjadi di masa depan,” tukasnya. [Red]#VOA

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *