Selain itu, distribusi di Gaza juga terhambat, para pejabat PBB mengatakan konvoi sering ditolak oleh pasukan Israel, militer sering menolak jalur aman di tengah pertempuran, dan bantuan dirampas dari truk oleh warga Palestina yang kelaparan dalam perjalanan ke titik pengantaran.
Keputusasaan di Gaza Utara
Kondisi di wilayah utara, yang sebagian besar berada di bawah kendali Israel selama berbulan-bulan, kini semakin memprihatinkan. Seluruh distrik di Kota Gaza dan sekitarnya luluh lantak menjadi puing-puing oleh pasukan Israel. Namun, ratusan ribu warga Palestina masih tersisa.
Daging, susu, sayur-sayuran dan buah-buahan hampir mustahil ditemukan, menurut beberapa warga yang berbicara kepada AP. Sejumlah barang tersedia secara acak di toko-toko dan dijual dengan harga yang sangat mahal, terutama kacang-kacangan, makanan ringan, dan rempah-rempah. Orang-orang mengambil bertong-tong coklat dari toko roti dan menjualnya dalam jumlah kecil.
Kebanyakan orang memakan rumput liar yang tumbuh di lahan kosong, yang dikenal dengan nama “khubaiza”. Fatima Shaheen, 70 tahun yang tinggal bersama kedua putranya dan anak-anak mereka di Gaza utara, mengatakan khubaiza rebus adalah makanan utamanya, dan keluarganya juga telah mengolah makanan yang dimaksudkan untuk digunakan kelinci sebagai tepung.
“Kami benar-benar ingin mendapatkan sepotong roti,” kata Shaheen.
Mahmoud Shalaby, seorang penduduk kamp pengungsi di Jabaliya, menyaksikan seorang pria di pasar memberikan sebuah kantong keripik kentang kepada kedua putranya dan mewanti-wanti mereka agar menghemat supaya cukup untuk untuk sarapan dan makan siang.
“Semua orang tahu berat badan saya turun,” kata Shalaby, yang merupakan manajer program senior di kelompok bantuan bagi rakyat Palestina di Gaza, Medical Aid.
Husam Abu Safiya, penjabat kepala Rumah Sakit Kamal Adwan, mengatakan kepada AP bahwa stafnya saat ini merawat 300 hingga 400 anak setiap hari. Sekitar 75 persen dari jumlah anak-anak tersebut menderita kekurangan gizi.
Jumlah bantuan yang dikirim melalui udara baru-baru ini oleh AS dan negara-negara lain jauh lebih sedikit daripada pengiriman melalui truk, yang kini makin jarang dan kadang-kadang berbahaya. UNRWA mengungkapkan bahwa pihak berwenang Israel melarang mereka mengirimkan pasokan ke wilayah utara sejak 23 Januari. Organisasi Pangan Dunia, yang menghentikan pengiriman karena masalah keamanan, menyatakan bahwa militer memaksa konvoi pertamanya ke utara dalam dua minggu terakhir untuk kembali ke wilayah tersebut pada Selasa.










