Menang di Pemilu Ulang, Ishiba Siap Hadapi Gejolak Politik Jepang

  • Whatsapp
Perdana Menteri Jepang Shigeru Ishiba menunggu setelah pemungutan suara pertama untuk perdana menteri baru pada sidang parlemen khusus majelis rendah di Tokyo, 11 November 2024.

“Saya memandang situasi saat ini secara positif sebagai peluang agar suara oposisi kita didengar dengan lebih hati-hati,” kata Tamaki.

Perdana Menteri baru Jepang Shigeru Ishiba (baris depan C) bersama anggota kabinetnya di kediaman resmi perdana menteri di Tokyo, 11 November 2024. (JIJI PRESS / AFP)
Perdana Menteri baru Jepang Shigeru Ishiba (baris depan C) bersama anggota kabinetnya di kediaman resmi perdana menteri di Tokyo, 11 November 2024. (JIJI PRESS / AFP)

Ishiba juga menghadapi tantangan memulihkan persatuan di partainya sendiri. Sejumlah anggota parlemen senior LDP sedang menunggu untuk menggulingkan Ishiba, meskipun prioritas mereka saat ini adalah memperkuat kembali pijakan mereka, bukan pertikaian – dan tidak ada seorang pun yang ingin melakukan pengendalian kerusakan pada masa sulit ini.

Bacaan Lainnya
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Pakar politik di Universitas Tokyo, Prof. Yu Uchiyama, mengatakan “pemerintahan (Ishiba) cukup tidak stabil. … Dia harus mendapatkan kerja sama dari partai-partai oposisi setiap kali dia ingin RUU tersebut disetujui, yang dapat menghambat kebijakan.”

Kalau pun Ishiba bertahan secara politik dalam beberapa bulan mendatang, mungkin ada seruan untuk menggantinya menjelang pemilu berikutnya, tambahnya. “Jepang kemungkinan akan kembali ke masa pemerintahan yang berumur pendek,” kata Uchiyama.

Bagaimana Pengaruh pada Diplomasi, Keamanan dan Hubungan Jepang-Amerika Serikat?

Ishiba mengucapkan selamat kepada Trump beberapa jam setelah kemenangannya dalam pilpres 5 November lalu. Dalam percakapan telepon singkat itu mereka sepakat untuk mempererat kerjasama guna lebih meningkatkan aliansi mereka.

Meskipun para pakar mengatakan Trump memahami pentingnya hubungan Amerika Serikat-Jepang, bisa jadi ia tetap menjalankan kebijakan yang sama seperti pada pemerintahan pertamanya. Ketika itu Trump menekan Jepang untuk membayar lebih banyak bagi biaya 50.000 tentara Amerika Serikat di Jepang atau untuk membeli senjata Amerika yang lebih mahal.

Kemungkinan usulan tarif Trump juga dapat merugikan eksportir Jepang.

Ishiba pada hari Sabtu (9/11) memperbarui janjinya untuk melaksanakan rencana pembangunan militer yang sedang berlangsung di bawah strategi yang memerlukan kemampuan serangan balik dengan rudal jelajah jarak jauh. Ia telah lama menganjurkan aliansi keamanan Jepang-Amerika Serikat yang lebih setara namun mungkin akan menghadapi kesulitan dalam mewujudkan rencana tersebut.

Pakar politik Jepang di Temple University, Michael Cucek, mengatakan “hal ini akan menjadi eksperimen yang luar biasa untuk melihat apakah pemerintah persatuan nasional dapat membawa Jepang lolos hingga pemilu berikutnya.” [Red]#VOA