-
Intake (Isap): Campuran udara dan bahan bakar diisap masuk ke dalam ruang bakar.
-
Kompresi: Gerakan rotor memampatkan campuran bahan bakar dan udara hingga menjadi padat.
-
Pembakaran: Busi memercikkan api, menyulut campuran yang terkompresi, dan menghasilkan ledakan kuat yang mendorong rotor untuk terus berputar.
-
Exhaust (Buang): Rotor mendorong gas sisa pembakaran keluar melalui saluran pembuangan (exhaust port).
Desain mesin Wankel diakui sebagai salah satu mahakarya paling inovatif karena memiliki komponen internal yang jauh lebih sedikit—tanpa keberadaan klep (valve) atau crankshaft yang rumit. Alhasil, dimensi fisiknya sangat ringkas dan ringan, namun mampu menghasilkan rasio tenaga per liter yang jauh melampaui mesin piston.
Namun, di balik performanya yang impresif, mesin ini menyimpan kelemahan besar yang membuatnya dihindari oleh masyarakat luas untuk kendaraan harian. Mesin rotari terkenal sangat boros bahan bakar dan cenderung lemah pada torsi putaran bawah.
Masalah paling krusial terletak pada komponen apex seal—segel di setiap ujung rotor—yang sangat cepat aus. Kerusakan pada apex seal menyebabkan kebocoran kompresi, konsumsi oli tangki yang tinggi, hingga menghasilkan emisi gas buang buruk yang tidak ramah lingkungan.
Akibat regulasi emisi global yang semakin ketat, pengembangan mesin Wankel untuk kendaraan massal kini telah resmi dihentikan oleh pabrikan global. Kendati demikian, mesin tanpa piston ini menolak mati.
Bagi para petrolhead (pencinta otomotif sejati), mesin Wankel justru menjadi barang buruan yang sangat bernilai tinggi. Sensasi berkendara, lengkingan suara knalpot yang khas pada putaran tinggi, serta nilai historisnya membuat posisi mesin rotari ini tidak akan pernah tergantikan di hati para penggemarnya. [Sat]








