Masyarakat Tengger Gelar Upacara Ritual Minta Hujan

  • Whatsapp
Umat ​​Hindu Tengger mengikuti "Mendhak Tirta", ritual penyucian untuk mengambil air suci dari gua Widodaren, menjelang festival Yadnya Kasada di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, Pasuruan, Jawa Timur, 19 Juni 2024. (REUTERS/Willy Kurniawan)
Pria Hindu Tengger membawa alat musik tradisional saat berjalan menuruni gunung usai melakukan "Mendhak Tirta", menjelang festival Yadnya Kasada di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, Pasuruan, Jawa Timur, 19 Juni 2024. (REUTERS/Willy Kurniawan)
Pria Hindu Tengger membawa alat musik tradisional saat berjalan menuruni gunung usai melakukan “Mendhak Tirta”, menjelang festival Yadnya Kasada di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, Pasuruan, Jawa Timur, 19 Juni 2024. (REUTERS/Willy Kurniawan)

Asih, seorang petani berusia 64 tahun di desa Ngadirejo dekat Gunung Bromo, mengatakan bahwa tahun ini dia berdoa untuk keselamatan dan kesehatan anak cucunya, serta keberhasilan ladang pertaniannya.

“Apa yang akan saya doakan di pura itu adalah agar para leluhur yang tinggal di sana mendengar dan mengabulkan keinginan kami. Saya berdoa demi keselamatan dan kesehatan anak cucu kami, dan agar hasil panen kami diberkati, matang, dan baik untuk persembahan kami berikutnya. Sekali lagi mohon berkahi kami dengan keselamatan dan kemudahan dalam menghadapi cuaca,” jelasnya.

Bacaan Lainnya
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});
Umat Hindu Tengger berdoa saat Mendhak Tirta, menjelang festival Yadna Kasada di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, Pasuruan, Jawa Timur, 19 Juni 2024. (REUTERS/Willy Kurniawan)
Umat Hindu Tengger berdoa saat Mendhak Tirta, menjelang festival Yadna Kasada di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, Pasuruan, Jawa Timur, 19 Juni 2024. (REUTERS/Willy Kurniawan)

Asih bercerita, dulunya ladang kubisnya bisa dipanen tiga kali dalam setahun, namun karena jarangnya hujan, ia kini hanya bisa panen satu kali saja. “Kalau tidak ada hujan lagi, kita tidak bisa bercocok tanam lagi. Sekarang sudah kering seperti ini. Setelah kering, akarnya tidak akan tumbuh lagi,” sebutnya.

Tahun lalu, sekitar dua per tiga wilayah Indonesia, termasuk seluruh Pulau Jawa, mengalami musim kemarau terparah sejak tahun 2019 akibat fenomena cuaca El Nino yang berlangsung lebih lama daripada biasanya dan menyebabkan kekeringan yang merugikan tanaman dan memperparah kebakaran hutan.

Seorang pendeta Hindu Tengger memimpin doa saat Mendhak Tirta, sebuah ritual penyucian untuk mengambil air suci dari gua Widodaren, menjelang festival Yadnya Kasada, di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru di Pasuruan, Jawa Timur, 19 Juni 2024. (REUTERS/Willy Kurniawan)
Seorang pendeta Hindu Tengger memimpin doa saat Mendhak Tirta, sebuah ritual penyucian untuk mengambil air suci dari gua Widodaren, menjelang festival Yadnya Kasada, di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru di Pasuruan, Jawa Timur, 19 Juni 2024. (REUTERS/Willy Kurniawan)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *