Makin Kencang, Seruan Internasional Minta Insiden Distribusi Bantuan di Gaza Diselidiki

  • Whatsapp
Seorang pria Palestina yang terluka dalam tembakan Israel saat menunggu bantuan, menurut pejabat kesehatan, terbaring di tempat tidur di rumah sakit al Shifa, di tengah konflik antara Israel dan Hamas, di Kota Gaza, 1 Maret 2024. (Foto: Kosay Al Nemer/Reuters)

Al Shifa dilaporkan telah merawat lebih dari 700 orang yang terluka dalam insiden konvoi mematikan pada Kamis. Dujarric mengatakan sekitar 200 dari mereka masih dirawat di rumah sakit.

“Pada saat tim melakukan kunjungan, staf rumah sakit memberi tahu mereka bahwa mereka telah menerima lebih dari 70 jenazah yang terbunuh,” kata Dujarric.

Bacaan Lainnya
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Ketika ditanya apakah mereka mengalami luka tembak, Dujarric mengatakan dia tidak yakin tim tersebut memeriksa mayat-mayat tersebut. Namun, dari pasien-pasien terluka yang mereka lihat sedang dirawat, “ada sejumlah besar luka tembak.”

Sejumlah warga Palestina mengevakuasi korban menyusul apa yang menurut pejabat kesehatan Palestina, penembakan oleh Israel terhadap orang-orang yang menunggu bantuan di Kota Gaza, 29 Februari 2024. (Reuters TV via Reuters)
Sejumlah warga Palestina mengevakuasi korban menyusul apa yang menurut pejabat kesehatan Palestina, penembakan oleh Israel terhadap orang-orang yang menunggu bantuan di Kota Gaza, 29 Februari 2024. (Reuters TV via Reuters)

Seruan Penyelidikan Makin Kencang

Presiden Prancis Emmanuel Macron mengutuk penembakan tersebut. Macron mengatakan warga sipil harus dilindungi, dan menyerukan gencatan senjata kemanusiaan segera.

“Harus ada penyelidikan dan pertanggungjawaban yang mendesak,” kata Menteri Luar Negeri Inggris David Cameron dalam sebuah pernyataan. “Ini tidak boleh terjadi lagi.”

Dia mengatakan Israel mempunyai kewajiban untuk memastikan “lebih banyak bantuan kemanusiaan” menjangkau warga Gaza, dan meminta pemerintah untuk membuka lebih banyak penyeberangan ke Gaza dan menghilangkan hambatan birokrasi.

Menteri Luar Negeri Jerman Annalena Baerbock terkejut dengan laporan tersebut.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *