Lonjakan Impor dari China, Hantam Industri Dalam Negeri Indonesia

  • Whatsapp
Suasana di pabrik garmen PT Eksonindo Multi Product Industry di Bandung, Jawa Barat, 11 Juli 2024. (Foto: Achmad Ibrahim/AP Photo)
Para pekerja memeriksa produk pakaian di Asnur Konveksi, produsen garmen di Bandung, Jawa Barat, 11 Juli 2024. (Achmad Ibrahim/AP)
Para pekerja memeriksa produk pakaian di Asnur Konveksi, produsen garmen di Bandung, Jawa Barat, 11 Juli 2024. (Achmad Ibrahim/AP)

Di Kabupaten Bandung di Provinsi Jawa Barat yang terkenal dengan tekstil seperti batik, kain tenun tangan, dan sutra, impor produk China telah membuat ribuan pekerja menganggur dan tidak memiliki penghasilan tetap, kata Neng Wati, manajer perusahaan manufaktur Asnur Konveksi.

“Sekarang mereka bekerja secara bergiliran. Jumlah pekerja tetap sama, tetapi pekerjaannya dibagi dan tidak semua mendapat bagian. Beberapa dari mereka sudah libur selama dua minggu, beberapa dari mereka belum mendapat pekerjaan selama sebulan,” kata Wati.

Bacaan Lainnya
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Kondisi itu merupakan pukulan berat setelah hari-hari yang sepi akibat pandemi COVID-19, ketika banyak pekerja dialihkan ke niaga-el (e-commerce) untuk memenuhi kebutuhan hidup, kata Nandi Herdiaman, kepala organisasi pengusaha kecil dan menengah setempat. Hanya 60 persen dari 8.000 anggota asosiasi yang tetap bekerja setelah pandemi.

Sekarang, tantangan terbesar adalah impor murah dari China. Dalam dua bulan terakhir, keluaran atau output dari industri rumahan telah turun hingga 70 persen, kata organisasi industri tersebut.

Peningkatan impor produk-produk China sebagian dilihat sebagai akibat dari ketegangan perdagangan antara AS dan China, yang telah menyebabkan peningkatan tarif Amerika atas barang-barang China. Namun, hal itu juga mencerminkan meningkatnya perdagangan di Asia karena kawasan tersebut menerapkan berbagai pakta perdagangan bebas, serta melemahnya permintaan di pasar-pasar Barat untuk ekspor China.