Meski serba terbatas, istrinya, Sumiati, tetap berusaha menjaga tradisi. Dengan tungku darurat di atas meja kayu, ia membuat jajanan sederhana untuk anak-anak. “Lebaran tanpa jajanan rasanya hambar. Jadi kami usahakan tetap ada, meski seadanya,” ujarnya.
Di tengah kondisi sulit, dua anak Sutono tetap bersemangat belajar. Buku-buku mereka ditaruh di atas papan agar tidak basah. Jika listrik padam, lampu minyak menjadi penerang. “Kalau pompa air bunyi keras, kami berhenti sebentar,” tutur sang putra sulung.
Keluar rumah pun penuh risiko. Jalan beton licin karena lumut, sehingga warga memasang jaring plastik agar ban kendaraan tidak tergelincir. Perjalanan menuju warung atau masjid kini terasa seperti perjuangan, namun solidaritas warga membuat semuanya lebih ringan.








