Krisis Beras di Negeri Penikmat Nasi

  • Whatsapp
Seorang pedagang beras menunggu pelanggan di kios beras di Jakarta pada 28 Februari 2024, di tengah kenaikan harga dan kekurangan bahan pokok di Indonesia.

Pembenahan Berbagai Sisi

Keluhan Choirul diamini Prof Dwidjono Hadi Darmanto, yang menekankan pentingnya subsidi langsung bagi sektor ini.

Bacaan Lainnya
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

“Yang kita khawatirkan, petani tidak mau menanam padi. Seperti sekarang, jarang petani yang mau menanam kedelai, kareka kedelai impor itu jauh lebih murah harganya, daripada biaya produksinya di Indonesia. Ini dikhawatirkan juga terjadi pada padi,” tegasnya.

Dwidjono menyebut, harga beras ideal ada di kisaran Rp15 ribu-Rp17 ribu perkilo, dengan harga gabah antara Rp 6 ribu- Rp7 ribu perkilonya. Negara semestinya memberikan bantuan pangan, kepada rakyat yang tidak mampu membeli besar dalam kisaran harga ini.

Dia melihat ada perbedaan kondisi di tiga sektor pertanian, yaitu hulu, tengah dan hilir, yang mempengaruhi pilihan tanam petani.

“Petani itu sudah susah. Di sektor hulu seperti pabrik pupuk atau pabrik benih, perusahannya kaya. Di sektor pengolahan hasil pertanian, itu juga perusahaannya kaya-kaya. Tapi petaninya kok miskin terus. Ini pasti ada yang salah,” ujar dia.

Sejumlah langkah perlu diambil, kata Dwidjono.

“Perbaiki irigasi, karena irigasi Indonesia itu jaringannya hampir 60 persen rusak. Otomatis kalau ada kekeringan pasti kena sekali,” katanya.

Irigasi memegang kontribusi sekitar 20-25 persen terhadap produkivitas. Penekanan perlu diberikan pada irigasi tersier dan kuarter, atau bagian jaringan irigasi yang langsung bersentuhan dengan sawah petani. Sayangnya, sejak tahun 1980-an, pemerintah justru melimpahkan tanggung jawab pengelolaan irigasi tersier-kuarter kepada petani.

Persoalan pupuk juga harus diselesaikan. Dwidjono sejak lama mengingatkan, pupuk bersubsidi tidak efektif sampai ke petani, karena pemerintah justru mengarahkan subsidi ke pabrik pupuk.

“Di China, subsidi pupuk langsung diberikan kepada petani. Petani membeli pupuk sesuai harga pasar, tetapi menerima pengembalian dana pembelian dari pemerintah melalui bank-bank, diganti 50 persen,” ujar Dwidjono.

Dampaknya, Indonesia kini justru mengimpor sejumlah komoditas dari China.

Tambah Subsidi dan Pompanisasi

Bukannya memperbaiki skema pemberian subsidi, pemerintah justru sekadar menambah besaran anggaran terkait persoalan ini. Usai bertemu presiden pada 26 Februari lalu, Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, memastikan ada penambahan pupuk subsidi pada 2024.

“Tadi dalam rapat, atas arahan dan keputusan bapak Presiden, jumlah kuantum pupuk dari anggaran 2024 sebesar 4,7 juta ton dinaikkan menjadi 9,55 juta ton,” ujar Mentan.

Sehari kemudian, terkait kebutuhan air, yang dilakukan adalah memompa air sungai, dan bukannya memperbaiki saluran irigasi. Keputusan ini merupakan hasil koordinasi Menteri Pertanian, Universitas Pertahanan, BNPB, dan kementerian PUPR.

“Untuk mengantisipasi dampak El Nino yang terjadi saat ini ada beberapa hal yang perlu kita lakukan. Pertama, kita akan lakukan pompanisasi sungai-sungai terbesar di Pulau Jawa,” kata Amran.

Pompanisasi sungai ini diharapkan mengaliri lahan 1 juta hektar, masing-masing separuh di Jawa dan separuh di luar Jawa. Saat ini, pompanisasi telah dilakukan di Sungai Bengawan Solo dan Cimanuk. Selain sungai, yang akan dipompa adalah sumur dangkal dan sumur dalam di tengah lahan-lahan pertanian yang kering. [Red]#VOA

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *