Arifin menambahkan, fokus utama kemitraan ini adalah peningkatan literasi dan numerasi, penguatan pendidikan inklusif, serta pembentukan komunitas literasi. Program juga mendorong terciptanya lingkungan belajar yang aman, terutama di wilayah perbatasan dengan tantangan geografis dan sosial.
Implementasi di lapangan melibatkan dosen dan mahasiswa melalui program rintisan, pendampingan, seminar, riset, hingga advokasi kebijakan daerah. Hasilnya diintegrasikan ke dalam kebijakan akademik UBT, termasuk mata kuliah khusus untuk calon guru di daerah terpencil serta pedoman perlindungan anak. “Program literasi sudah menunjukkan hasil positif, termasuk peningkatan kemampuan membaca siswa di Tarakan periode 2024–2025,” jelasnya.








