“Dalam konteks Mei 98, pemerkosaan massal jadi kami merasa kayak rahim perempuan, rahim perempuan para korban dibiarkan terkoyak dan menginjak-injak sejarah untuk tunggangan kekuasaan,” tegas Yuni.
Koalisi Perempuan Desak Presiden Hentikan Penyalahgunaan Kekuasaan dalam Pemilu
Perempuan aktivis senior, yang pernah menjabat berbagai badan terkemuka di dalam dan luar negeri, Zumrotin Susilo, saat membacakan seruan dari Koalisi Perempuan Penyelamat Demokrasi dan HAM, mengatakan dengan tegas, “Kami mendesak presiden untuk menghentikan penyalahgunaan kekuasaan dalam pemilu 2024. Kami menolak ketidaknetralan presiden karena merusak demokrasi, mengoyak keadilan dan memecah bangsa, serta menolak penyalahgunaan kekuasaan dalam mendukung pasangan calon dengan melanggar konstitusi, mengukuhkan nepotisme, oligarki dan patriarki.”
Mewakili ratusan perempuan yang berunjukrasa, ia mengatakan presiden telah meninggalkan nilai-nilai demokrasi berperspektif perempuan dan tidak menganggap penting seruan moral dan kritik, tidak saja dari kelompok-kelompok perempuan, tetapi juga organisasi masyarakat sipil dan universitas-universitas.








