Ia sekarang menikmati manfaat dari pengabdiannya, termasuk perawatan kesehatan dan dukungan pendidikan melalui program militer AS seperti GI Bill dan Hazlewood Act, yaitu tunjangan dari negara bagian Texas untuk veteran bersama pasangan dan anak-anak tanggungan untuk biaya pendidikan hingga 150 jam kredit di perguruan tinggi.
“The beauty of Texas (indahnya Texas), cuma Texas yang punya namanya Hazlewood Act. Kalau pernah berangkat perang dari Texas, maka berhak untuk mendapatkan namanya Hazlewood Act. Itu biaya pendidikan dari negara bagian Texas. Jadi bisa saya sendiri pakai atau anak saya atau suami saya. Kuliah gak perlu bayar buat 5 tahun,” paparnya.
Kini, dengan putranya di sekolah menengah atas, Rosita terus bertugas sebagai tentara cadangan, masih membawa kebanggaan akan warisan Indonesia dan Amerika. Ia tetap sangat bersyukur atas kesempatan yang dimilikinya dan menantikan babak selanjutnya dalam hidupnya, yang mungkin termasuk bergabung dengan misi seperti operasi Garuda Shield pada kemudian hari.
Rosita menegaskan kecintaannya yang mendalam pada negara asalnya, Indonesia, dan negara tempat ia mengabdi, Amerika Serikat. Ia menyatakan bahwa menjadi bagian dari militer AS tidak mengurangi cintanya pada Indonesia. Sebaliknya, ia menggunakan jabatannya untuk mempromosikan budaya Indonesia di dalam militer, termasuk mengenakan batik tradisional pada kesempatan-kesempatan yang sesuai, dan berbagi masakan Indonesia dengan sesama prajurit lainnya.
Dari Pengacara ke Dinas Militer dan Kembali ke Pengacara
Perjalanan Letnan Kolonel Rosita Aruan Orchid Baptiste dan Sersan Kristania Virginia Besouw juga dialami oleh seorang pria Indonesia yang juga sempat berdinas di Angkatan Darat AS, Letnan Kolonel Bill Kadarusman. Kisah mereka menunjukkan sifat-sifat yang sama, yakni keberanian untuk bertindak, ketangguhan untuk bertahan, keteguhan untuk mencapai tujuan, dan kemampuan beradaptasi.
Ketiganya harus mengikuti latihan dan simulasi militer yang merupakan gabungan dari latihan fisik, latihan taktis, dan disiplin. Tujuannya adalah untuk menghasilkan prajurit yang kuat dan bugar secara fisik, tangguh secara mental, dan berdisiplin tinggi.
Bill datang ke Hawaii sebagai mahasiswa untuk belajar akuntansi. Namun, setelah lulus dan sempat bekerja di bidang itu ia ingin menjalani karier yang lebih banyak bersentuhan dengan kemanusiaan. “Ternyata setelah saya lulus, saya sebenarnya gak suka dengan accounting. Sekarang hitung duitnya orang, kerjanya monoton, juga kerja sendiri. Saya kurang tertarik kalau kerja sendiri, tidak ada interaksi dengan orang lain.”
Bill Kadarusman ketika berpangkat Kapten (foto pribadi)
Maka, pria asal Malang ini beralih haluan dan kuliah di fakultas hukum di Utah. Meskipun ia telah memulai karier di bidang hukum, panggilan untuk bergabung dengan Angkatan Darat AS muncul begitu saja, dan ia tidak dapat menolaknya. Pada tahun 2005, meskipun belum menjadi warga negara AS, dia mendaftar dan mulai dari pangkat terendah, seperti rekrutan lainnya.
Bill tidak pernah membayangkan bahwa hidupnya akan membawanya ke garis depan Perang Irak. Mimpi masa kecil masih melekat di benak Bill—ia selalu ingin menjadi anggota militer. Teman-temannya sempat memperingatkannya agar tidak meneruskan niatnya mendaftar, terutama pada masa perang. “Teman-teman saya bilang ‘jangan, kamu mau mati,’ tapi waktu itu saya memang punya tekad yang sangat besar. Jadi saya bilang, gak apa-apa, saya mau coba,” kata Bill.
Meskipun sempat menghadapi tantangan yang tidak terbayangkan dan mengalami kengerian yang tidak terlupakan di medan perang, Bill mengatakan bahwa ia menemukan kepuasan dalam tugasnya. Dia belajar disiplin, ketahanan, dan kemampuan untuk beradaptasi di bawah tekanan.
Letnan Kolonel Bill Kadarusman bersama keluarga (foto dok. pribadi)
Lambat laun, karier Bill di militer terus menanjak sampai ia mencapai pangkat Letnan Kolonel. Selain tetap menjadi perwira di Garda Nasional, Bill juga menekuni profesi yang pernah diawalinya tetapi kemudian ditinggalkannya sewaktu memasuki dinas militer. Kini, ia berdinas paruh waktu di AD Garda Nasional, yang memungkinkannya untuk mengabdi pada negara sambil mengejar karier sipil. Ia menekuni kariernya sebagai pengacara dengan bekal pelajaran perang ke dalam kehidupan sehari-harinya. Sebagai pengacara, Bill banyak membantu imigran dari berbagai penjuru dunia.
Meskipun telah menjadi warga negara Amerika, seperti Kristy maupun Rosita, Bill menegaskan bahwa cintanya pada Indonesia tidak pernah goyah. “Iya, saya orang Indonesia. Kalau saya ditanya orang apa, saya selalu bilang saya orang Indonesia. Rasa bangga saya dengan Indonesia tidak pernah hilang, tidak luntur. Saya tetap mengakui kalau saya dari Indonesia. Bagi saya tidak menjadi persoalan di manapun kita berada, nasionalisme kita itu bisa kita tunjukkan di mana saja, kapan saja,” pungkasnya. [Red]#VOA








