TAKALAR | DN – Di Desa Barugaya, Kecamatan Polombangkeng Timur, kehidupan sehari-hari petani kini diwarnai rasa cemas. Sawah yang biasanya hijau dan penuh kehidupan berubah menjadi hamparan tanah kering, retak, dan berdebu. Musim tanam yang seharusnya membawa harapan baru justru menghadirkan ketidakpastian.
Setiap pagi, para petani tetap berangkat ke sawah. Mereka memeriksa tanaman padi yang mulai layu, menyiram seadanya dengan sisa air yang ditampung dari musim lalu, lalu duduk di pematang sambil menatap langit. “Kalau hujan tidak turun dalam beberapa hari ke depan, padi bisa betul-betul mati,” ujar seorang warga dengan nada pasrah.








