Di salah satu daerah di Kenya, ia mengatakan 550 pekerja dengan HIV segera diberhentikan, sementara ribuan pekerja lainnya di Ethiopia diberhentikan, sehingga para pejabat kesehatan tidak dapat melacak penyebaran penyakit tersebut.
Ia mencatat bahwa hilangnya dana Amerika Serikat untuk program-program HIV di beberapa negara merupakan bencana besar, mengingat pendanaan eksternal mencapai sekitar 90 persen dari program-program mereka.
Byanyima mengatakan, hampir $400 juta dana yang diperoleh UNAIDS disalurkan ke negara-negara seperti Uganda, Mozambik dan Tanzania.
Keputusan pemerintahan Trump terkait PEPFAR juga mengundang reaksi keras di Washington DC. Kamis pekan lalu, ratusan orang menggelar aksi protes di dekat Gedung Departemen Luar negeri AS, mempertanyakan penghentian program yang saat ini diyakini melayani sekitar 20 juta orang di berbagai penjuru dunia terkait pengobatan dan pencegahan HIV/AIDS. Aksi itu sendiri diorganisir Housing Works, organisasi nirlaba yang bergerak memerangi AIDS dan tunawisma di Amerika Serikat.
Matthew Kavanagh, dosen kesehatan global di Georgetown University, hadir dalam aksi protes itu. Ia mengatakan kepada Reuters, “Apa yang dilakukan pemerintah benar-benar ilegal. Sebenarnya Kongreslah yang mengesahkan undang-undang pembentukan PEPFAR. Merekalah yang membentuk Badan Pembangunan Internasional Amerika Serikat (USAID). Sebenarnya bukan wewenang Menteri (Luar Negeri Marco) Rubio. Bukan wewenang presiden. Dan tentu saja bukan wewenang Elon Musk untuk memutuskan menghapusnya. Itu jelas merupakan pelanggaran terhadap Pasal Satu Konstitusi yang sebenarnya mengatakan, itu terserah pada Kongres.”
Byanyima juga mengatakan hilangnya dukungan Amerika dalam upaya memerangi HIV terjadi pada saat kritis lainnya. Saat ini, katanya, ada obat antivirus yang banyak disebut pakar kesehatan sebagai “alat pencegahan ajaib”. Dinamakan lenacapavir, obat tersebut bila disuntikkan ke tubuh manusia dua kali setahun terbukti memberikan perlindungan menyeluruh terhadap HIV pada perempuan, dan memberikan hasil yang hampir sama baiknya pada laki-laki.
Penggunaan suntikan ini secara luas, selain intervensi lain untuk menghentikan HIV, dapat membantu mengakhiri penyakit ini sebagai masalah kesehatan masyarakat dalam lima tahun ke depan, kata Byanyima.










