Kementan Optimis Bisa Berhasil Cetak Sawah 500 Ribu Hektare di Merauke

  • Whatsapp
Presiden Joko Widodo didampingi Menteri PUPR Basuki Hadimuljono, Menteri Pertanian Yasin Limpo, dan sejumlah pejabat meninjau areal persawahan yang menjadi kawasan lumbung pangan di Kabupaten Sumba Tengah.

Menurutnya, selama ini kebijakan pemerintah selalu mengutamakan kepentingan konsumen, dan mengatasi masalah pangan dengan cepat lewat cara impor.

“Saya sederhana saja, tingkatkan kesejahteraan petani, karena apa? Ketika petani sejahtera, ketika petani mendapat profit yang memadai dari lahan yang mereka olah, mereka akan mempertahankan lahannya. Lalu mereka akan berupaya mengadopsi teknologi baru untuk meningkatkan produktivitasnya,” papar Dwi.

Bacaan Lainnya
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});
Sebaliknya, bila petani terus merugi, mereka tidak akan mampu mengadopsi teknologi baru dan lambat laun akan menjual lahan mereka.

Peningkatan kesejahteraan petani akan berdampak besar, tidak hanya untuk petani itu sendiri, tetapi juga bisa menarik anak muda tertarik untuk terjun di dunia pertanian.

“Lalu petani akan mempertahankan lahan yang mereka kuasai, bahkan mereka juga akan memanfaatkan lahan-lahan yang tidak termanfaatkan saat ini. karena lahan kosong atau lahan kering saja itu masih ada 14 juta hektare di Indonesia, dan itu belum termanfaatkan secara optimal,” pungkasnya.

Diversifikasi Pangan

Senada dengan Dwi, Guru Besar Teknologi Hasil Pertanian, Unika Santo Thomas Medan, Posman Sibuea mengatakan pemerintah harus memiliki kajian akademik yang menyeluruh jika ingin melakukan program pengelolaan lahan pangan dalam skala besar, termasuk apakah keputusan untuk mencetak sawah baru di wilayah timur Indonesia tersebut sudah tepat. Pasalnya, mayoritas masyarakat di sana tidak banyak mengkonsumsi beras.

Menurutnya, jika memang pemerintah ingin tetap mengolah lahan pangan dalam jumlah besar, jangan hanya terpaku pada padi. Ia menyarankan untuk mengembangkan pangan lokal di wilayah masing-masing.

Panen raya komoditas jagung di lahan food estate, di Gunung Mas, Kalteng , Senin (11/3) (humas Kementan)
Panen raya komoditas jagung di lahan food estate, di Gunung Mas, Kalteng , Senin (11/3) (humas Kementan)

“Sebetulnya kalau mau dilakukan, coba dilihat apakah memang harus padi? atau memang pangan-pangan lokal saja yang harus dikembangkan di sana, karena di Papua itu dari dulu tidak pernah mengenal beras. Mungkin dengan umbi-umbian, sagu, jagung (akan berhasil),” ungkap Posman.

Namun, Posman menekankan bahwa jika pemerintah memang ingin memajukan produksi pangan lokal, hal itu harus dilakukan dengan manajemen yang profesional. Dengan mendorong diversifikasi pangan dan mempertahankan keanekaragaman pangan lokal di berbagai wilayah, dia yakin ketergantungan Indonesia terhadap beras bisa berkurang secara alami.

“Kita lihat tingkat konsumsi beras di Indonesia masih tinggi, rata-rata 90-100 kg per kapita per tahun. Kalau dibandingkan dengan Malaysia, negara-negara maju, mereka bisa hidup tanpa harus mengkonsumsi nasi tiga kali sehari,” jelasnya.

Selain kajian akademik, imbuh Posman, hal penting lainnya yang perlu menjadi perhatian pemerintah dalam mengembangkan lumbung pangan terutama padi ini adalah pendampingan kepada petani. Jika dibandingkan dengan petani padi di negeri penghasil beras seperti Vietnam, Thailand dan India, mereka cenderung sejahtera. Oleh karena itu, produktivitasnya selalu terjaga dengan baik.

“Kalau sudah 500 ribu hektare, ini sudah sangat luas sekali. Bagaimana nanti petani mengelola itu?” katanya.

“Apakah seperti nasib di Kalimantan yang ditinggalkan oleh petani yang sudah dibagi lahannya, karena memang setelah selesai dikasih lahan, dikasih sarana produksi, pemerintah meninggalkan. Sehingga petani-petani lokal yang ada di food estate itu merasa ditinggalkan oleh pemerintah, tidak diberi lagi pendampingan untuk mereka. Jadi, petani lokal itu jangan ditinggalkan, mereka harus menjadi tuan di atas tanahnya,” pungkasnya. [Red]#VOA