LAMONGAN | DN – Pembangunan Jembatan Kesambi di jalur vital Pantai Utara (Pantura) Lamongan–Gresik memasuki fase krusial. Guna mengurai kepadatan arus logistik nasional, jembatan strategis ini ditargetkan mulai dapat dilalui kendaraan secara fungsional (open traffic) untuk satu jalur dua lajur arah Surabaya tepat pada peringatan HUT ke-81 Republik Indonesia, 17 Agustus 2026.
Pembukaan tahap awal difokuskan pada kendaraan yang meluncur dari arah barat menuju Surabaya. Pengawas Lapangan Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) Jawa Timur-Bali Satker PPK 4.5, Arvian Zanuardi, menjelaskan bahwa langkah ini diambil agar alur transportasi umum dan kendaraan logistik tetap dapat bergerak secara bertahap di tengah proses konstruksi.
Setelah jalur arah Surabaya resmi difungsikan, tim pelaksana proyek akan langsung mengalihkan penanganan ke sisi sebelahnya, yakni jalur menuju Tuban. Sisi jembatan lama arah Tuban tersebut bakal dibongkar total dan dibangun ulang dengan menerapkan skema rekayasa lalu lintas contraflow.
“Untuk Jembatan Kesambi, rencananya kami usahakan tanggal 17 Agustus sudah dibuka open traffic untuk satu jalur dua lajur arah Surabaya. Jadi sifatnya fungsional untuk lalu lintas umum,” ujar Arvian Zanuardi saat dikonfirmasi, Jumat (7/8/2026).
Fakta Temuan: Gelagar Patah di Dalam Keputusan merobohkan seluruh struktur lama Jembatan Kesambi secara total didasari oleh hasil evaluasi teknis mendalam dan audit struktur oleh tim perencana BBPJN. Hasil pemeriksaan menemukan kerusakan fatal pada struktur utama yang sangat membahayakan keselamatan jiwa jika tetap dipertahankan.
Arvian membeberkan fakta penting yang selama ini belum banyak diketahui secara luas oleh masyarakat umum. Menurutnya, bagian dalam girder (gelagar) penopang jembatan lama ternyata sudah dalam kondisi patah.
“Masyarakat mungkin belum banyak yang tahu kalau gelagar Jembatan Kesambi itu sebenarnya sudah patah di dalam. Makanya harus dibongkar total dan diganti baru,” ungkap Arvian.
Ia menegaskan, pembongkaran total ini merupakan langkah preventif vital guna mengantisipasi terulangnya tragedi jembatan runtuh di jalur Pantura, sebagaimana insiden runtuhnya Jembatan Cincin Babat dan Jembatan Ngaglik pada tahun-tahun sebelumnya.
Spesifikasi Lebih Kokoh dengan Teknologi PCI Girder Selain rekonstruksi total, Jembatan Kesambi yang baru dibangun dengan standar keselamatan dan spesifikasi teknis yang jauh lebih tinggi. Bentang jembatan diperpanjang dari semula 16 meter menjadi 22 meter menggunakan teknologi modern Prestressed Concrete I-Girder (PCI Girder). Selain itu, elevasi atau ketinggian jembatan dibuat lebih tinggi untuk mengantisipasi genangan serta mengoptimalkan daya dukung terhadap beban kendaraan bertonase berat.
Meski pengerjaan awal sempat mengalami penyesuaian teknis di lapangan terkait struktur kedalaman pondasi dan pilar tiang, pelaksana optimis pengerjaan sisi berikutnya akan berlangsung lebih lancar. Sesuai kontrak kerja, seluruh pembangunan Jembatan Kesambi ditargetkan rampung sepenuhnya pada pertengahan Desember 2026.
Forum Lalu Lintas dan Larangan ‘Ngeblong’ Mengingat tingginya volume kendaraan di urat nadi Pantura Lamongan-Gresik, BBPJN PPK 4.5 bersama kontraktor telah membentuk wadah koordinasi intensif melalui Forum Lalu Lintas. Forum ini melibatkan Satlantas Polres Lamongan, Dinas Perhubungan Kabupaten Lamongan, Dishub Provinsi Jawa Timur, serta tim konsultan pengawas.
Selain itu, kanal komunikasi khusus juga diaktifkan untuk merespons secara cepat jika terjadi kemacetan parah, kecelakaan, atau kondisi darurat di sekitar area pengerjaan. Pihak BBPJN turut memohon maaf kepada seluruh pengguna jalan atas ketidaknyamanan dan kelambatan arus lalu lintas selama masa konstruksi.
“Kami memohon masyarakat dan pengguna jalan untuk bersabar serta mematuhi petunjuk petugas di lapangan. Jangan melakukan aksi contraflow liar atau ‘ngeblong’ karena justru memicu kemacetan makin parah. Jika ada kondisi darurat seperti ambulans, petugas Lantas di lapangan siap membantu membukakan jalur,” tutup Arvian. [J2]








