Jumlah Masjid Meningkat di Amerika Serikat, Termasuk Milik Komunitas Indonesia

  • Whatsapp
Masjid IMAAM Center di Silver Spring, Maryland (Foto: VOA)

Aturan ketat dalam membangun rumah ibadah di Amerika Serikat diakui oleh diaspora Indonesia, Haris Koentjoro, arsitek asal Indonesia di Baltimore, Maryland, Ia dipercaya untuk ikut merancang Masjid Istiqlal dan Masjid IMAAM Center ke-2 yang masih dalam tahap perencanaan.

“Misalkan energy code (aturan energi.red). Jadi dinding ini insulasinya seperti apa? Atap itu insulasinya seperti apa? Ada perhitungan-perhitungan khusus. Misalnya jendela, bukaan itu ada nilainya berapa, sehingga itu ada energy code yang harus kita taati. Dan itu berbeda dari setiap (negara bagian) atau tiap (pemerintah daerah) itu berbeda-beda,” jelas Haris Koentjoro saat ditemui oleh VOA.

Bacaan Lainnya
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Desain Masjid yang ‘Humble’

Di Amerika Serikat tak jarang terlihat masjid yang berbentuk seperti bangunan gedung biasa tanpa menara atau kubah yang identik dengan masjid-masjid di Indonesia. Menurut Haris, ada perbedaan antara desain dan metode yang diambil dalam membangun masjid di Amerika Serikat dan di Indonesia.

“Masjid itu selalu orang-orang identik dengan kubah. Kalau bagi saya masjid itu harus humble,” kata Haris Koentjoro kepada VOA.

“Humble-nya itu artinya dia bisa menyatu ke lingkungan, baik secara natural atau secara komunitas, artinya apa? Kalau sekitar bangunan di situ dari bata gitu ya misalnya, ya kita harus menyesuaikan dengan apa yang ada (di) sekitar. Jangan bikin menara gading. Jangan membuat masjid yang dari emas gitu ya,” tambahnya.

Tempat salat bagian perempuan di masjid Indonesia IMAAM Center di Silver Spring, Maryland (dok: Andriana Wirrotama)
Tempat salat bagian perempuan di masjid Indonesia IMAAM Center di Silver Spring, Maryland (dok: Andriana Wirrotama)

Bahan bangunan yang digunakan pun tidak selalu sama. Jika di Indonesia banyak menggunakan beton dan batu bata, di Amerika Serikat bahan bangunan yang digunakan pun cukup beragam, termasuk kayu dan metal.

Bagi Haris, adalah tanggung jawabnya untuk memberikan pengertian dan menyampaikan metode konstruksi yang tepat untuk membangun masjid di Amerika kepada kliennya.

“Bagaimana kita bisa membuat bangunan di Amerika dengan sistim kontruksi di Amerika,” kata Haris.

“Bukan berarti murah itu jelek, murah itu bisa bagus. Jadi bagaimana kita membuat bangunan yang lebih ramah lingkungan dalam arti secara lingkungan natural dan lingkungan komunitas,” tambahnya lagi.

Walau begitu, para jemaah masih akan dapat melihat dan merasakan nuansa Indonesia pada interior masjid, seperti dalam bentuk kaligrafi, juga pada konsep arsitekturnya.

“Memang dari awal kita ingin seperti itu. Jadi misalnya katakanlah ada beberapa ornament-ornamen, kita bicara tentang ornamen ya, bukan berarti nanti masjidnya harus berbentuk seperti Joglo, gitu kan ya enggak gitu ya, tapi ornamen-ornamen tertentu yang bisa kita masukan ke dalam desain interior kita atau misalkan di eksterior,” ujar Haris.

Terkait dengan pembangunan Masjid Istiqlal, Indonesian American Muslim Community berharap bisa menjadikan masjid tersebut sebagai pusat pengenalan pemikiran Islam yang berkembang di Indonesia. [Red]#VOA