Bangunan sementara itu juga sebelumnya telah memiliki izin zonasi rumah ibadah yang lalu dialihkan menjadi masjid Istiqlal.
Tidak hanya masjid, tetapi IAMC juga memiliki fasilitas lapangan olah raga, taman bermain untuk anak-anak, serta sekolah keagamaan dengan jumlah murid yang melebihi 100 orang, di mana 30 persen di antaranya adalah murid internasional.
Dengan masjid yang lebih besar yang tengah dibangun di komplek yang sama, IAMC bertujuan untuk memfasilitasi lebih banyak kegiatan.
“Kita sudah desain masjid, kurang lebih biayanya sekitar 3 juta dolar AS. Kalau kita mau bangun dari scratch. Tadinya rencana kita adalah mencari uang sampai terkumpul 3 juta dolar (Amerika Serikat), kemudian kita bangun dari nol sampai selesai begitu,” ujar Eka Kristanto, Presiden Indonesian American Muslim Community, kepada VOA.
Karena masalah biaya, IAMC lalu mengubah strategi pembangunan masjid ini ke dalam tiga tahapan, dengan konsep yang sangat minimalis.
Kini, mereka sudah berhasil mengumpulkan biaya untuk melakukan pembangunan tahap pertama dan tengah menanti izin pembangunan dari pemerintah daerah setempat.
“Pokoknya kita bisa pakai, kemudian setelah kelihatan gedungnya, kita berharap fundraising akan bisa semakin lancar, sehingga kita bisa mengumpulkan uang untuk tahap kedua, yaitu melengkapi lantai kedua yang untuk sisters, dan kemudian tahap ketiga adalah finishing,” tambah Eka.
Aturan Ketat
Tentu saja ada persyaratan lain yang harus diikuti, antara lain desain arsitektur dan konstruksi dari masjid itu sendiri. Pemerintah akan mengecek proporsi tanah tempat bangunan dan tanah di sekitarnya.
“Kemudian berdasarkan itu kita harus membuat kolam resapan air karena di Houston kan tanahnya jelek,” tambahnya.
Tidak hanya itu, bangunan tersebut juga harus memiliki lapangan parkir yang sesuai dengan kapasitas gedung, fasilitas bagi jemaah penyandang disabilitas, serta sistim keamanan yang memadai, khususnya dalam menghadapi kebakaran. Salah satunya pengadaan pemancar air di langit-langit gedung.
“Kalau bangunan itu bertingkat mereka ingin ada fasilitas elevator, jadi kalau misalnya ada orang yang disable, yang pakai kursi roda harus bisa ke lantai atas kalau memang salatnya di lantai atas,” tambahnya lagi.











