“Tugas kami ke depan adalah bagaimana kami mengawal berbagai kegiatan investasi, dan juga mengkoordinasikan berbagai kegiatan dengan kementerian/lembaga. Tentu nanti bagaimana kontribusi investasi terhadap pertumbuhan baik pada masa transisi tahun 2024, kami juga mengantarkan untuk pemerintahan baru nanti agar kelancaran dan peningkatan investasi bagi pertumbuhan ekonomi. Itu yang menjadi fokus kami,” ungkap Yuliot.
Pengamat: Tidak Ada Urgensi Penambahan Posisi Wakil Menteri
Pengamat Politik dari BRIN Lili Romli menyatakan bahwa di sisa waktu pemerintahan Jokowi-Ma’ruf yang tinggal sebentar ini, tidak ada urgensi untuk menambah posisi wakil menteri yang baru. Menurutnya, ini lebih terlihat sebagai bagi-bagi kue kekuasaan.
“Urgensinya apa? Kok ada penambahan wakil menteri. Apalagi kemudian wakil menteri berasal dari partai yang sebentar lagi akan menjadi penguasa, sehingga kemudian publik akan selalu mengasosiasikan ini terkait dengan bagi-bagi jabatan atau bagi-bagi kekuasan karena penambahan wamen itu bukan dalam konteks untuk meningkat kinerja kementerian. Dan juga saya kira juga tidak terkait dengan krisis ekonomi yang luar biasa, sehingga diperlukan wamen,” ungkap Lili ketika berbincang dengan VOA.
Selain itu, ia menduga masuknya dua elite Partai Gerindra dalam pemerintahan kali ini terutama posisi Wamenkeu mencerminkan tidak ada keselarasan antara pihak Kemenkeu dengan pihak tim transisi Prabowo-Gibran untuk mengeksekusi program prioritasnya di tahun depan.
“(Mungkin) Menteri keuangan yang sekarang dianggap sudah tidak dipercaya lagi sehingga kemudian yang nanti yang untuk melaksanakan ya wamen itu. karena yang kita tahu memang Menkeu Sri Mulyani berseberangan dengan Pak Prabowo, sehingga bisa jadi terkait dengan program-program populisnya Pak Prabowo itu, mungkin tidak dieksekusi atau susah dieksekusi sehingga kemudian menempatkan orang yang kebetulan sebagai keponakannya untuk posisi wamen,” jelasnya.
Lili berpendapat tidak etis sebenarnya menaruh orang baru di dalam pemerintahan, apalagi orang itu berasal dari partai penguasa pemerintahan yang akan datang. Menurutnya, alangkah lebih bijak hal tersebut dilakukan ketika Oktober mendatang selepas Prabowo-Gibran resmi dilantik menjadi presiden dan wakil presiden.
“Harusnya ya di taruh di pemerintahan baru saja, tidak sekarang. Kok kesusu banget (tergesa sekali,red),” pungkasnya. [Red]#VOA








