Pengamat: Israel Seakan Punya Impunitas Hukum
Diwawancarai melalui telpon, pengamat hubungan internasional di Universitas Islam Indonesia Hasbi Aswar menyayangkan serangan Israel yang terjadi hanya beberapa jam setelah Hamas menyepakati proposal kesepakatan gencatan senjata yang diusulkan Qatar dan Mesir. Jelas Israel tidak ingin Hamas kembali berkuasa di Gaza, dan lebih memilih kelompok seperti Fatah di Tepi Barat, yang dinilai dapat lebih bekerjasama dengan pemerintahan Netanyahu.
“Masalahnya sampai sekarang ini Hamas belum ditaklukkan. Itu yang membuat Israel tetap membabi buta menggempur Gaza. Karena ancaman Hamas terhadap Israel ini ancaman kedaulatan. Kalau Hamas tidak dilumpuhkan, bagi Israel hanya menunggu infiltrasi akan terjadi lagi,” katanya.
Melihat situasi saat ini Hasbi semakin pesimis dengan solusi dua negara yang selama ini digadang-gadang untuk menyelesaikan konflik Israel-Palestina.
“Sedemikian rupa Gaza dikontrol dari darat, laut, dan udara tapi tetap bisa membuat kekuatan militer Hamas menghantam Israel; apalagi jika diberikan kemerdekaan. (Solusi dua negara) itu berat (diwujudkan), hampir mustahil. Kecuali Israel dapat jaminan bahwa yang memimpin Palestina itu yang bukan anti-Israel dan anti-Amerika,” tuturnya.
Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza, wilayah yang dikelola Hamas, mengatakan hingga hari Rabu (8/5) lebih dari 34.700 warga Palestina tewas dalam serangkaian serangan darat dan udara Israel ke Gaza. Sebagian besar korban tewas itu adalah perempuan dan anak-anak. Serangan Israel ini merupakan pembalasan terhadap serangan Hamas ke bagian selatan Israel yang menewaskan 1.200 orang. Hamas juga menculik sekitar 250 orang, yang sebagian besar telah dibebaskan dalam kesepakatan gencatan senjata pertama November lalu. [Red]#VOA








