Israel Serang Rafah, 12 Tim Relawan MER-C Terperangkap di Gaza

  • Whatsapp
Asap mengepul saat pasukan Israel melancarkan operasi darat dan udara di bagian timur Rafah, di tengah konflik yang sedang berlangsung antara Israel dan Hamas, di Rafah, selatan Jalur Gaza, 7 Mei 2024. (REUTERS/Hatem Khaled)

Pengamat: Israel Seakan Punya Impunitas Hukum

Diwawancarai melalui telpon, pengamat hubungan internasional di Universitas Islam Indonesia Hasbi Aswar menyayangkan serangan Israel yang terjadi hanya beberapa jam setelah Hamas menyepakati proposal kesepakatan gencatan senjata yang diusulkan Qatar dan Mesir. Jelas Israel tidak ingin Hamas kembali berkuasa di Gaza, dan lebih memilih kelompok seperti Fatah di Tepi Barat, yang dinilai dapat lebih bekerjasama dengan pemerintahan Netanyahu.

Bacaan Lainnya
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

“Masalahnya sampai sekarang ini Hamas belum ditaklukkan. Itu yang membuat Israel tetap membabi buta menggempur Gaza. Karena ancaman Hamas terhadap Israel ini ancaman kedaulatan. Kalau Hamas tidak dilumpuhkan, bagi Israel hanya menunggu infiltrasi akan terjadi lagi,” katanya.

Ketidakmampuan negara-negara lain dan badan internasional setingkat PBB untuk menekan Israel membuat negara itu seakan memiliki impunitas hukum dan terus melancarkan perang terhadap Palestina, apapun alasannya. Menurut Hasbi yang justu efektif menekan Israel adalah serangan di jalur pelayanan yang menuju ke Israel sebagaimana dilakukan kelompok Houthi di Yaman, dan demonstrasi mahasiswa di kampus-kampus terkemuka Amerika.

Melihat situasi saat ini Hasbi semakin pesimis dengan solusi dua negara yang selama ini digadang-gadang untuk menyelesaikan konflik Israel-Palestina.

“Sedemikian rupa Gaza dikontrol dari darat, laut, dan udara tapi tetap bisa membuat kekuatan militer Hamas menghantam Israel; apalagi jika diberikan kemerdekaan. (Solusi dua negara) itu berat (diwujudkan), hampir mustahil. Kecuali Israel dapat jaminan bahwa yang memimpin Palestina itu yang bukan anti-Israel dan anti-Amerika,” tuturnya.

Amerika mengamati dengan seksama operasi Israel di Rafah, karena sesuai informasi dari mitra-mitra di IDF, diyakini bahwa operasi ini bersifat terbatas.

Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza, wilayah yang dikelola Hamas, mengatakan hingga hari Rabu (8/5) lebih dari 34.700 warga Palestina tewas dalam serangkaian serangan darat dan udara Israel ke Gaza. Sebagian besar korban tewas itu adalah perempuan dan anak-anak. Serangan Israel ini merupakan pembalasan terhadap serangan Hamas ke bagian selatan Israel yang menewaskan 1.200 orang. Hamas juga menculik sekitar 250 orang, yang sebagian besar telah dibebaskan dalam kesepakatan gencatan senjata pertama November lalu. [Red]#VOA