Tim relawan etape ketiga ini, ujar Sarbini, sedianya keluar dari Gaza Senin lalu, rotasi dengan tim keempat yang sudah bersiap masuk ke Gaza. Namun serangan darat Israel ke Rafah membatalkan rencana ini. WHO juga telah menginstruksikan untuk tidak melakukan pergantian tim selagi Israel melancarkan operasi militer di Rafah.
“Kita berharap mereka bisa dievakuasi aau bisa keluar dari Gaza hingga ada pergantian tim yang hendak masuk dari Kairo ke Gaza. Kita akan terus mengupayakan hal-hal yang serius untuk terus membantu warga Gaza yang pada hari ini memang sangat membutuhkan bantuan, perhatian dari kita semuanya,” katanya.
Relawan MER-C yang saat ini tinggal di Rafah terdiri dari dokter bedah dan perawat. Jika situasi tidak aman, atau bahkan terus memburuk, tim etape ketiga ini akan tetap berada di kota itu dan membantu merawat warga yang cedera di rumah sakit.
Koordinasi Erat dengan WHO
Dalam kesempatan yang sama petugas penghubung EMT MER-C Marissa Noriti mengatakan pihaknya memang berkoordinasi dengan WHO dalam mengirim relawan medis ke Gaza. Tim relawan MER-C etape pertama masuk ke Gaza bersama rombongan WHO pada 18 Maret, dan terus rotasi hingga etape ketiga yang saat ini bertahan di Rafah, sementara etape keempat masih tertunda masuk ke wilayah konflik itu dan masih berada di Mesir. Sejauh ini MER-C telah memberangkatkan 31 relawan meliputi dokter spesialis, dokter umum, perawat, dan bidan.
“Berdasarkan informasi yang kami dapat dari EMTC di Gaza, untuk saat tidak aman untuk bekerja di rumah sakit An-Najar dan Emirati. Akhirnya kami tidak menugaskan tim kami di sana,” ujarnya.
Marissa mengungkapkan tim relawan MER-C tinggal di sebuah rumah aman dan dipasangi bendera sebagai identitas. Koordinat lokasi rumah aman bagi relawan MER-C juga diberikan kepada WHO yang berkoordinasi dengan pihak-pihak yang bertikai agar tidak menjadikan lokasi itu sebagai sasaran serangan.








