Israel Lancarkan Serangan Udara, Rebut Penyeberangan Rafah di Gaza

  • Whatsapp
Gambar selebaran yang dirilis oleh tentara Israel menunjukkan tank tim tempur Brigade 401 memasuki perbatasan Rafah sisi Palestina yang melintasi antara Gaza dan Mesir di Jalur Gaza selatan, 7 Mei 2024.

Kantor Netanyahu, Senin (6/5) mengatakan bahwa Kabinet Perang Israel “memutuskan dengan suara bulat bahwa Israel melanjutkan operasi di Rafah untuk mendesakkan tekanan militer terhadap Hamas, dengan tujuan untuk membebaskan para sandera kami dan tujuan-tujuan lain dari perang”.

AS, Senin (6/5) mendesak seluruh pihak agar mencapai kesepakatan bagi penghentian sementara pertempuran dan pembebasan para sandera yang masih ditahan Hamas di Gaza.

Bacaan Lainnya
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

“Kami ingin para sandera tersebut dibebaskan,” kata John Kirby, juru bicara keamanan nasional John Kirby.

“Kami ingin gencatan senjata selama enam pekan. Kami ingin meningkatkan bantuan kemanusiaan dan hal terakhir yang ingin saya lakukan adalah mengatakan apapun di podium ini yang akan membahayakan proses tersebut. Terlepas dari itu, seperti yang kami sampaikan sebelumnya, kami masih percaya bahwa mencapai kesepakatan adalah benar-benar hasil terbaik, tidak hanya bagi para sandera, tetapi juga bagi rakyat Palestina,” ujarnya lagi.

Presiden AS Joe Biden berbicara dengan PM Israel Benjamin Netanyahu melalui telepon, Senin (6/5), menegaskan posisi AS bahwa operasi Rafah harus mencakup rencana untuk memastikan keselamatan rakyat Palestina. Sebuah pernyataan Gedung Putih menyebut bahwa Netanyahu setuju “untuk memastikan perlintasan Kerem Shalom terbuka untuk bantuan kemanusiaan bagi mereka yang membutuhkan.”

Biden juga menjadi tuan rumah bagi Raja Yordania di Gedung Putih, di mana mereka berbincang tentang situasi di Gaza.

WHO mengatakan, sekitar 1,2 juta orang berlindung di Rafah. Kebanyakan dari mereka datang dari wilayah lain di Gaza, melarikan diri dalam upaya mencari keamanan dan perlindungan, saat serangan Israel terhadap Hamas menjadikan mayoritas Jalur Gaza menjadi reruntuhan.

Dalam sebuah pernyataan, Senin (6/5), Sekjen PBB Antonio Guterres mengatakan bahwa dia “sangat prihatin dengan indikasi bahwa operasi militer skala besar di Rafah mungkin sudah dekat. Kita sudah melihat pengungsian rakyat, kebanyakan dari mereka putus asa dengan kondisi kemanusiaan dan telah berulangkali mengungsi,” kata dia.

Dia juga mendesak Israel maupun Hamas untuk “berupaya lebih banyak untuk mewujudkan kesepakatan menjadi nyata.”

Direktur Jendral WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus mencuit pada Senin (5/7) di plaform media sosial X, “Sebuah serangan militer skala penuh ke Rafah, akan menjerumuskan krisis ini ke tingkat kebutuhan kemanusiaan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Gencatan senjata sangat dibutuhkan demi kemanusiaan.”

Badan bantuan PBB untuk Palestina, UNRWA, mengatakan di media sosial pada Senin bahwa operasi Israel di Rafah, akan menciptakan “lebih banyak penderitaan dan kematian warga sipil,” dan konsekuensi “kehancuran” bagi lebih dari 1 juta orang yang berlindung di sana. [Red]#VOA

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *