Inggris: Situasi di Gaza ‘Tidak Dapat Ditoleransi’

  • Whatsapp
Jenazah anggota staf World Central Kitchen diangkut keluar dari kamar mayat rumah sakit di Rafah di Jalur Gaza selatan pada 3 April 2024, dua hari setelah konvoi LSM tersebut terkena serangan Israel. (Foto: AFP)

Korban lainnya termasuk seorang pengemudi Palestina yang dipekerjakan oleh Solace Global, bersama dengan seorang warga Australia, seorang warga Polandia, dan seorang warga negara ganda AS-Kanada. Pemerintah negara-negara tersebut telah menyuarakan seruan untuk melakukan penyelidikan cepat. Israel mengatakan pada hari Rabu bahwa mereka tidak bermaksud untuk menarget para pekerja bantuan.

“Serangan itu adalah kesalahan yang terjadi setelah kesalahan identifikasi pada malam hari, saat perang, dalam kondisi yang sangat kompleks. Serangan itu seharusnya tidak terjadi,” kata Kepala staf Angkatan Pertahanan Israel Herzi Halevi yang disiarkan di televisi pada Selasa.

Bacaan Lainnya
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Organisasi Human Rights Watch menolak penjelasan tersebut pada hari Rabu, seperti disampaikan oleh Omar Shakir, direktur organisasi itu untuk Israel dan Palestina yang berbicara dengan VOA melalui tautan Zoom.

“Serangan mematikan Israel terhadap pekerja bantuan World Central Kitchen di Gaza ini menunjukkan karakteristik serangan udara presisi, yang menunjukkan bahwa militer Israel bermaksud untuk menyerang kendaraan tersebut. World Central Kitchen melaporkan posisi dan pergerakannya kepada pemerintah Israel. Kendaraan mereka ditandai dengan jelas. Bagi pemerintah Israel, ini bukanlah insiden yang terjadi hanya satu kali,” katanya.

World Central Kitchen telah menghentikan operasinya di Gaza. Pendirinya mengatakan serangan itu adalah “akibat langsung dari kebijakan yang menekan bantuan kemanusiaan ke tingkat yang sangat menyedihkan.”

Meskipun ada tuduhan luas dari lembaga-lembaga bantuan bahwa Israel menghalangi pasokan bantuan ke Gaza, Israel membantah pihaknya memblokir bantuan. Sebaliknya, aliran bantuan yang tidak lancar tersebut dipersalahkan pada Hamas – yang dituduh menggunakan rumah sakit dan fasilitas bantuan sebagai pangkalan militer. Hamas membantah klaim tersebut dan mengatakan Israel menggunakan kelaparan sebagai senjata perang. [Red]#VOA