Indonesia Bersiap Hadapi Musim Kemarau
BMKG juga menyimpulkan awal musim kemarau umumnya diprediksi mundur dibandingkan dengan kondisi normalnya. Puncak musim kemarau diprediksi terjadi pada Juli dan Agustus 2024.
Dalam menghadapi musim kemarau 2024, BMKG mengimbau kementerian, pemerintah daerah, dan masyarakat untuk lebih siap serta antisipatif terhadap kemungkinan dampak musim kemarau terutama di wilayah yang mengalami sifat musim kemarau di bawah normal atau lebih kering dari biasanya. Wilayah-wilayah tersebut diprediksi dapat mengalami peningkatan risiko bencana kekeringan meteorologis, karhutla, dan kekurangan sumber air.
Sementara itu dosen program studi meteorologi dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Joko Wiratmo, mengatakan 61 zom yang diprediksi mengalami kemarau di bawah normal karena dipengaruhi oleh Dipol Samudra Hindia atau Indian Ocean Dipole (IOD).
“Ada kemungkinan IOD akan naik sedikit, tapi secara keseluruhan itu netral. Ada pengurangan curah hujan, misalnya di Aceh, Riau, dan lainnya karena memang di sana pola ekuatorial, sementara hampir banyak di wilayah Indonesia dipengaruhi oleh monsun. Pola di mana monsun itu pada Juni dan Juli rendah curah hujannya,” katanya kepada VOA.
Joko menilai kecil kemungkinan akan terjadi karhutla dan kekurangan sumber air di 61 zom tersebut. Kendati demikian, potensi terjadinya karhutla dan kekeringan sumber air berpeluang terjadi di wilayah tertentu.
“Menurut saya tidak akan sampai mengarah ke sana (karhutla dan kekeringan sumber air) karena ini kondisinya kemarau seperti biasa. Tapi kalau misalnya di wilayah tertentu mungkin pengurangannya banyak bisa saja. Kalau kurun waktunya agak lama lebih dari tiga minggu bisa jadi kering dan ada peluang. Tapi saya pikir kecil kemungkinan,” pungkas Joko. [Red]#VOA








