Uni Eropa secara drastis mengurangi ketergantungannya pada gas Rusia setelah pecahnya perang di Ukraina pada Februari 2022 dengan mencari sumber gas alternatif.
Pembeli gas Rusia yang tersisa seperti Slovakia dan Austria telah mengelola pasokan alternatif, dan analis memperkirakan dampak dari penghentian tersebut terhadap pasar akan minimal. Harga gas acuan Eropa ditetapkan pada 48,50 euro per megawatt jam pada Selasa, hanya naik sedikit dari pembukaan perdagangan.
Namun, menghentikan aliran gas akan memiliki dampak geopolitik yang jauh lebih besar.
Moskow telah kehilangan pangsa pasokan gas yang dominan ke negara-negara di Uni Eropa, yang beralih pada para pesaing Rusia seperti Amerika Serikat, Qatar, dan Norwegia. Situasi ini berawal sejak Rusia menginvasi Ukraina, yang mendorong UE untuk menghentikan ketergantungannya pada gas Rusia.
Meski dulu merupakan eksportir gas terbesar di dunia, Gazprom yang dikelola pemerintah Rusia, mencatat kerugian sebesar $7 miliar pada 2023 saja, kerugian tahunan pertamanya sejak 1999.
Rusia dan Uni Soviet menghabiskan waktu setengah abad untuk membangun pangsa pasar gas Eropa yang besar, yang pada puncaknya mencapai sekitar 35 persen, tetapi perang di Ukraina telah menghancurkan bisnis itu bagi Gazprom.
Sebagian besar aliran gas Rusia ke Eropa ditutup, termasuk Yamal-Eropa melalui Belarus dan Nord Stream di bawah Laut Baltik yang diledakkan pada 2022.








