Kampus dan Luar Kampus
Sebagai mahasiswa, kehidupan di dalam kampus terkait erat dengan apa yang terjadi di luarnya. Begitupun bagi Ashrie yang belajar Ilmu Hubungan Internasional di Universitas Hasanuddin. Sejak lama dia mengaku telah mengikuti perkembangan politik Amerika Serikat dan berbagai tulisan. Terpilih sebagai penerima bea siswa IISMA tahun ini, memberinya kesempatan melihat dari dekat, kehidupan politik yang selama ini hanya dia saksikan dari jarak sangat jauh.
Salah satu yang dia catat adalah soal bagaimana polarisasi dalam masyarakat Amerika terkait politik. Jika selama ini dia hanya membaca berita soal itu, Ashrie kini melihat dari dekat, dan bahkan berbicara langsung dengan orang Amerika, tentang polarisasi semacam itu.
“Jadi, sejauh ini ekspektasiku kurang lebih sama, meskipun ada beberapa kultur politik yang memang aku enggak melihat dulu, tetapi sekarang aku mulai memperhatikan dan kurang lebih mulai mengerti, bagaimana kultur politik tersebut,” katanya.
Bagi mahasiswa yang tertarik politik, ini juga kesempatan untuk membuat perbandingan penerapan sistem yang ada di Indonesia dan Amerika Serikat. Ashrie mencatat, meskipun ada jauh lebih banyak partai di Indonesia, tetapi lebih sulit untuk menemukan perbedaan platform diantara mereka. Sementara, dengan hanya dua partai besar di AS, justru perbedaan itu dengan mudah bisa ditemukan.
“Di Indonesia, karena saking banyaknya partai, kita tidak tahu bagaimana bisa memilih ideologi yang mungkin sesuai dengan apa yang kita pikir, atau apa yang kita percaya. Justru di Amerika, karena ada dua partai yang cukup jelas pendiriannya, jadi kita bisa lihat bahwa masyarakat Amerika justru lebih aktif dalam berdiskusi, terutama politik,” ujar Ashrie.
“Saya merasa beruntung sekali, sebagai mahasiswa dari Indonesia yang bisa berkunjung ke negara seperti Amerika Serikat, yang value demokrasinya cukup besar, karena itu bisa jadi bahan pembelajaran mengenai sistem politik atau sistem pemerintahan,” tambahnya lagi.
Namun, di luar soal politik, para mahasiswa ini juga menemukan banyak hal lain yang menarik.
“Aku ikut kegiatan dari women centre, network of enlightenment women. Kadang datang ke acara-acara gathering yang santai, kayak nonton anime, ngobrol-ngobrol. Dan culture shock juga banyak, cuma itu sesuatu yang menurut aku bisa diterima, karena perubahan ini juga perubahan yang menyenangkan dan menurut aku perlu dirasakan,” kata Ella.
Sementara bagi Bella, sisi menariknya adalah memahami langsung sudut pandang orang Amerika terkait isu-isu yang selama ini hanya bisa dia baca. Dari sekian mata kuliah yang dia ambil, Bella mengaku paling tertarik dengan persoalan imigrasi.
“Aku beruntung bisa melihat perspektif orang-orang Amerika tentang imigrasi. Dan menurutku, setelah memahami semua ini, sebelum kita judging negara lain, kita harus ngerasain hidup di situ itu bagaimana. Baru kita boleh nge-judging,” ujar dia. [Red]#VOA









