Empat Mahasiswa Program IISMA di Jantung Politik Amerika
“Juga karena Georgetown ada di Washington DC yang merupakan capital city of US, itu juga pasti akan memberikan kesempatan yang besar buat mempelajari dinamika politik di Amerika secara keseluruhan,” tambahnya.
Saat ini ada empat mahasiswa program sarjana dari Indonesia yang belajar di school of foreign service, Universitas Georgetown. Selain Ashrie, ada juga Ariella Raissakirana Wijayanti dari Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, Ningdyah Lestari dari Universitas Indonesia, Depok, Jawa Barat, dan Bella Ceria Agustina dari Universitas Mulawarman, Samarinda, Kalimantan Timur.
Universitas Georgetown adalah universitas riset Yesuit swasta yang didirikan oleh Uskup John Carroll pada 1789. Universitas ini adalah merupakan insitusi pendidikan tinggi Katolik tertua di Amerika Serikat. Lokasinya hanya 3,5 kilometer dari Gedung Putih.
School of Foreign Policy Universitas Georgetown, di mana empat mahasiswa Indonesia ikut belajar semester ini, ditetapkan menjadi yang terbaik menurut jurnal Foreign Policy, dalam rangking yang dikeluarkan tahun ini. Predikat itu diperoleh melalui survei kepada 1.500 orang, yang bergerak dalam kebijakan luar negeri. mereka yang memberi penilaian termasuk akademisi dari seluruh Amerika Serikat, pegiat lembaga pemikir dalam isu hubungan internasional, dan pembuat kebijakan yang pernah bekerja pada pemerintahan George W. Bush, Barack Obama dan Donald Trump.
“Personally, aku mempertimbangkan Georgetown-nya dulu sebelum hubungan internasionalnya karena selain lokasi Georgetown yang strategis di Washington DC, dan itu provide banyak opportunity buat aku yang mahasiswa politik. Selain itu, Georgetown, comparative advantage–nya atau kelebihannya memang di school of foreign service-nya,” kata Ella, panggilan akrab Ariella Raissakirana Wijayanti.
Sementara bagi Ningdyah Lestari, kesempatan belajar di Georgetown di tengah pemilu Amerika Serikat juga memberinya lebih banyak keuntungan.
“Dosen-dosenku biasanya berkecimpung di dunia akademis saja. Sementara di Georgetown itu mungkin karena ada di ibu kota, jadi sebagian besar dari dosennya itu mereka praktisi juga dalam bidangnya. Jadi apa yang diperbincangkan di kelas, itu enggak lagi abstrak, tapi mereka adalah orang-orang yang sudah mengalaminya di lapangan dan kita bisa belajar banyak dari situ,” ujar Ning.
“Ini beneran kesempatan yang unik banget. Pertama kali Indonesia mengirim mahasiswa IISMA ke ibu kota Amerika Serikat pada election cycle, jadi sangat unik dan menarik. Apalagi kemarin pas debat presiden, kita berkesempatan untuk nonton bareng bersama campaign manager dari Partai Republik dan Partai Demokrat, dan sangat menarik melihat live reaction dari mereka terhadap hal ini,” tambah Ning yang belajar Filsafat di UI.
Bella Ceria Agustina juga berpikiran sama. Apalagi, dalam beberapa tahun mendatang, Universitas Mulawarman, di mana Bella belajar saat ini, akan berada tidak jauh dari pusat pemerintahan Indonesia, ketika sudah secara resmi dan menyeluruh pindah ke Ibu Kota Nusantara (IKN).
“Ini menarik karena bisa mengamati langsung situasi politiknya disini. Jadi ikutan belajar politiknya, jadi terpacu untuk belajar politik,” kata Bella yang mengaku sejak kecil memang ingin menikmati kuliah di Amerika Serikat.
Beberapa mata kuliah yang diambil para mahasiswa IISMA ini antara lain adalah Poverty and Equality, International Relation, Comparative Political System serta Immigration, Refugee and State.











