Meskipun demikian, dukungan implisit Jokowi sangat penting, kata analis Kevin O’Rourke.
“Jokowi telah menjadi faktor yang sangat besar. Sebagian besar penyebabnya adalah dia. Dan dia punya formula yang membuatnya populer: inflasi yang rendah, belanja layanan sosial dan pembangunan infrastruktur, serta watak yang disukai orang,” katanya.
Ubah cinta menjadi suara
Para pengamat telah menunjukkan kemerosotan demokrasi yang mengkhawatirkan di Indonesia, namun dugaan masa lalu yang kelam dan kritikan terhadap politik dinasti yang dilancarkan terhadap Prabowo tampaknya tidak terlalu menjadi masalah di kalangan akar rumput, di mana jutaan orang mengidentifikasi diri mereka dengan kepribadian Jokowi yang dianggap rendah hati dan memiliki perhatian pada rakyat jelata di Indonesia.
Ketika Mahkamah Konstitusi, yang saat itu dipimpin oleh saudara ipar presiden, mengubah aturan batas usia yang memungkinkan Gibran mencalonkan diri sebagai wakil presiden, protes di dunia maya tidak memicu protes massal di jalanan.
“Ini belanja untuk memberi manfaat bagi konstituen sebagai imbalan atas dukungan politik mereka,” kata Nur Hidayat Sardini, dosen Universitas Dipenogoro Semarang. “Bantuan sosialnya sangat besar.”
Dampaknya pada kampanye Ganjar, keluh Bambang Wuryanto dari PDI-P, seperti “bom besar.”
Pemerintah membantah ada kandidat yang mendapat manfaat dari program bantuan sosial. Kantor kepresidenan belum menanggapi pertanyaan mengenai keluhan netralitas tersebut.
Sudaryono, Ketua Gerindra Jawa Tengah, mengatakan tugasnya adalah untuk “mengubah rasa cinta menjadi suara.” Dia menambahkan bahwa banyak masyarakat Indonesia yang tertarik pada janji menteri pertahanan mengenai “kesinambungan” kebijakan Jokowi.
Namun para analis mengatakan kesinambungan seperti itu masih jauh dari jaminan. “Sebagian besar kekuasaan berada di tangan presiden,” kata O’Rourke. “Dan pada tanggal 20 Oktober hal itu akan berubah, dan Joko Widodo akan keluar kekuasaannya.” [Red]#VOA







