Sejak Prabowo secara kontroversial menunjuk putra Jokowi sebagai cawapresnya pada bulan Oktober, rating Ganjar di Jawa telah anjlok 30 poin menjadi 38 persen dari 68 persen, sementara popularitas Prabowo kini telah melampaui popularitas Ganjar.
Turunnya angka jajak pendapat Ganjar secara tiba-tiba, bahkan di Jawa Tengah dan Jawa Timur, juga karena ‘efek Jokowi’ ini, kata Muslim. “(Ini) menunjukkan betapa kuat dan penting pengaruh Jokowi… kingmaker utama,” kata dia.
“Darah lebih kental daripada partai politik,” kata Sudaryono, ketua pengurus partai Gerindra di Jawa Tengah.
Agus, 50 tahun, yang mengelola sebuah kios pasar di Semarang, mengatakan: “Ketika orang melihat Gibran, mereka melihat Jokowi. Jika Gibran tidak ada di sana, pasti (popularitas) Prabowo akan turun.”
Tidak dapat disangkal bahwa Prabowo telah menjalankan kampanye yang cerdas, menukar retorika nasionalisnya dengan tarian yang lucu dan mengadopsi julukan “gemoy,” yang berarti lucu dan menggemaskan.
Pada kampanye mirip karnaval di kota Tegal, Jawa Tengah yang lengkap dengan pentas musik, dan door prize, ratusan penggemar dengan kemeja biru muda yang menampilkan avatar AI milik Prabowo, menghadiri acara itu di bawah terik matahari.
“Saya suka program makanan gratis untuk anak-anak sekolah,” kata Isnaeni, ibu dua anak berusia 28 tahun, “Prabowo mencintai masyarakat.”









