Lili menduga Megawati juga khawatir kalau mengajukan Anies yang merupakan non-kader PDIP, partainya hanya akan dijadikan kendaraan politik. Tanpa menyebut nama, dia menegaskan orang dari PDIP saja bisa berkhianat apalagi orang dari luar partai berlambang kepala banteng tersebut.
Dia menilai keputusan PDIP untuk tidak mencalonkan Anies menunjukkan PDIP merupakan partai ideologis yang mengutamakan kadernya meski berpeluang kalah.
Ditanya peluang calon terpilih nantinya, Lili menilai Pramono sudah cukup berpengalaman di legislatif dan ekskutif dan loyal terhadap partai. Rano juga berpengalaman sebagai kepala daerah. Namun dia memperkirakan popularitas dan elektabilitas duet dari PDI ini tertinggal jauh ketimbang pasangan Ridwan-Suswono.
Dia pun mengakui pengusungan Pramono-Rano terkesan mendadak karena tanpa dideklarasikan sebelumnya. Ia menduga, ini akibat adanya diskusi yang alot di internal PDIP karena partai tersebut tadinya mau mengajukan Anies.
Menurut Lili, Megawati juga enggan memunculkan kembali politik identitas dalam pemilihan gubernur Jakarta. Karena itu, dia tidak mengajukan nama Basuki Tjahja Purnama alias Ahok. Keputusan itu merupakan jalan tengah, yakni menolak Anies tapi juga tidak mengusung Ahok.
Terkait Ridwan-Suswono, dia berpendapat duet tersebut lebih di atas angin ketimbang pasangan Pramono-Rano. Apalagi duet Ridwan-Suswono didukung banyak partai. Tapi kalau Anies yang maju, menurutnya, persaingan akan lebih ketat, dan bahkan Ridwan bisa kalah.
Lili menjelaskan duet Ridwan-Suswoni mengambil ceruk suara nasionalis dan Islam. Ceruk nasionalis diwakili oleh Ridwan dan ceruk Islam direpresentasikan oleh Suswono. Sedangkan duet Pramono-Rani mengandalkan pendukung fanatik PDIP.








