Dongkrak Ekonomi dan Ketahanan Pangan, Bupati Yuhronur Tinjau Langsung Proyek Strategis Lamongan

  • Whatsapp

LAMONGAN | DN — Komitmen Pemerintah Kabupaten Lamongan dalam menggenjot sektor pertanian dan konektivitas wilayah kembali dibuktikan melalui percepatan pembangunan infrastruktur strategis. Langkah ini ditandai dengan peninjauan langsung oleh Bupati Lamongan, Yuhronur Efendi, terhadap sejumlah proyek vital, mulai dari perbaikan jembatan antarprovinsi/kabupaten hingga pembangunan waduk air.

Salah satu proyek utama yang menjadi sorotan adalah rekonstruksi Jembatan Talunrejo yang terletak di Dusun Godok, Desa Talunrejo, Kecamatan Bluluk. Jembatan ini memiliki posisi krusial karena menjadi jalur urat nadi penghubung antara Kabupaten Lamongan dan Kabupaten Bojonegoro (Kecamatan Kedungadem).

Bacaan Lainnya
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Bupati yang akrab disapa Pak Yes ini menjelaskan bahwa rencana rekonstruksi jembatan yang sempat putus tersebut telah mengantongi restu dari Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa. Saat ini, pemkab tengah memfokuskan pengerjaan pada bagian fondasi.

Berdasarkan data Dinas Bina Marga Cipta Karya dan Tata Ruang Lamongan, bangunan baru Jembatan Talunrejo akan memiliki bentang sepanjang 25 meter dengan lebar 6 meter. Konstruksinya dirancang kokoh menggunakan abutmen beton bertulang dengan minipile berukuran 200 x 200 milimeter sepanjang 14 meter, serta dipadukan dengan konstruksi baja komposit di bagian atas.

Selain konektivitas darat, Pemkab Lamongan juga menjawab tantangan ketahanan pangan melalui pembangunan Embung Dungpawon di Desa Sembung, Kecamatan Sukorame. Pembangunan waduk mini ini diinisiasi menyusul aspirasi kuat dari warga dan kepala desa setempat.

Dinas Sumber Daya Air dan Bina Konstruksi Lamongan mencatat, embung tersebut akan dibangun di atas lahan potensial seluas kurang lebih 4 hektare. Fasilitas penampung air ini diproyeksikan memiliki volume efektif mencapai 180 ribu meter kubik.

Kehadiran Embung Dungpawon diandalkan mampu menyuplai kebutuhan air bagi sekitar 25 hektare lahan persawahan hingga dua kali masa tanam dalam setahun, dengan estimasi kebutuhan sekitar 75 ribu kubik per periode tanam. Guna memaksimalkan manfaatnya, pemkab juga menyiapkan pembangunan serta perawatan berkala pada saluran irigasi pendukung.

Dalam agenda peninjauan lapangannya, Yuhronur turut mengecek progres fisik pengerjaan jalan di ruas Dradah-Kedungpring yang mendapat penanganan sepanjang 2.882 meter. Seluruh rangkaian pembangunan infrastruktur ini diharapkan mampu memberikan dampak ganda (multiplier effect), baik dalam mendongkrak produktivitas sektor agraris maupun memperlancar roda perekonomian masyarakat antarwilayah. [NH]

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *