Makin Menderita
Hujan deras semalaman yang mengguyur Gaza menambah lebih banyak masalah bagi para pengungsi karena hujan deras membanjiri tenda-tenda, menghanyutkan beberapa di antaranya, dan membuat mereka bangun dari tidur.
Sejumlah orang menempatkan ember air di tanah untuk melindungi tikar mereka dari kebocoran dan menggali parit untuk mengalirkan air dari tenda-tenda. Sementara itu, harga tenda baru dan terpal plastik untuk mencegah kebocoran mengalami lonjakan.
Ahmed Al-Burai, 30 tahun, mengatakan orang-orang membuat tenda mereka dari karung tepung bekas, pakaian usang, dan tas nilon. Begitu hujan turun, air dan angin menerbangkan banyak tenda dan membanjiri yang lain.
“Semuanya tenggelam, selimut, makanan, dan orang-orang hanya dalam beberapa jam hujan,” kata Burai kepada Reuters melalui telepon dari Al-Mawasi, daerah yang ditetapkan sebagai daerah bantuan kemanusiaan di Jalur Gaza selatan.
“Sebagian besar pengungsi tidak mampu membeli tenda dan terpal plastik dengan harga baru. Baru dua hari lalu harga terpal plastik mencapai 100 hingga 200 shekel (sekitar Rp410.00-Rp820.000), dan sekarang naik menjadi 700 dan 800 shekel (Rp2,8 juta hingga Rp3,3 juta) karena keserakahan para pedagang,” kata Burai.
Badan pengungsi Palestina PBB, UNRWA, menyatakan akan dibutuhkan lebih banyak tempat berlindung dan perlengkapan untuk membantu masyarakat untuk menghadapi musim dingin.
“Saat musim gugur dimulai, plastik dan kain tidak cukup untuk melindungi orang-orang dari hujan dan dingin,” tulis badan bantuan itu di X.









