Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi itu menyoroti maraknya korupsi di Indonesia sebagai penghalang terbesar untuk mencapai kemakmuran ekonomi. “Ada yang bertanya kepada kami: ‘mungkin tidak Anda menargetkan mendapat pertumbuhan ekonomi tujuh persen di dalam satu tahun karena di dalam sejarah reformasi tidak pernah sampai tumbuh sebanyak tujuh persen’,” tutur Mahfud MD.
Ia menambahkan bahwa, menurut pihak yang bertanya itu, tingkat pertumbuhan ekonomi setinggi itu hanya tercapai pada periode 1981-1991, atau tepatnya pada era Orde Baru. “Lalu pertanyaan itu saya sampaikan kepada beberapa orang ahli. Mereka mengatakan hanya karena kebodohan kita, kita ini tidak bisa menaikkan pertumbuhan ekonomi menjadi tujuh persen. Karena ini kita raya dengan sumber daya alam dan sumber daya manusia yang hebat.”
“Masalahnya apa? Masalahnya banyak korupsi dan inefisiensi di sektor-sektor pertumbuhan ekonomi yaitu sektor konsumsi, belanja pemerintah, ekspor-impor dan investasi,” lanjutnya.
Mahfud MD menyoroti hasil riset Transparansi Internasional yang mengatakan korupsi terjadi secara masif di tingkat eksekutif, yudikatif, dan legislatif “secara besar-besaran.”

Dalam pemaparan visi misinya, Muhaimin Iskandar yang akrab disapa Cak Imin, menjabarkan sejumlah masalah ekonomi yang harus diberantas. Ia berulangkali menggunakan kata “slepet” untuk menggambarkan upaya pemberantasan tersebut.
Cak Imin juga berjanji akan memberantas mafia dalam perdagangan Indonesia. Lebih jauh, Cak Imin berjanji akan mengurangi angka pengangguran yang saat ini mencapai 8 juta jiwa. Ia juga berjanji akan melanjutkan, bahkan menambah, besaran nilai program bansos.
Cak Imin juga menjanjikan alokasi lima persen APBN, sekitar Rp150 triliun, untuk kaum muda, salah satunya melalui program Kredit Usaha Anak Muda. Ia juga berjanji akan mengalokasikan dana Rp5 miliar per desa tiap tahunnya.
Dalam debat itu, Gibran sempat menyentil Cak Imin terkait pembangungan IKN. “Saya izin tanggapi Gus Muhaimin. Ingat sekali sempat ikut meresmikan dan ikut potong tumpeng di IKN. Ini bagaimana? Tidak konsisten. Dulu dukung, sekarang tidak dukung karena menjadi wakil Pak Anies,” ujar Gibran.
Gibran menjelaskan kalau pembangunan IKN merupakan simbol pemerataan pembangunan di Indonesia. Terkait pernyataan tersebut, warganet ramai menanggapi bahwa Cak Imin kena “slepet” oleh Gibran. [Red]#VOA








