Menurutnya, pembangunan IKN tidak sekadar pembangunan gedung-gedung pemerintahan saja, namun diharapkan dapat menjadi simbol pemerataan dan transformasi pembangunan di Indonesia.

Lebih lanjut, ia mengatakan Indonesia harus meningkatkan nilai tambah ekonomi agar bisa keluar dari perangkap pendapatan menengah (middle income trap), keadaan ketika suatu negara berhasil mencapai tingkat pendapatan menengah tetapi tidak bisa keluar dari tingkatan tersebut untuk menjadi negara maju.
Untuk itu kuncinya, menurut Gibran, menaikkan nilai tambah di dalam negeri di tengah gempuran resesi dan konflik geopolitik. “Di tengah resesi global, perang dagang, dan konflik geopolitik, rata-rata pertumbuhan ekonomi negara kita tetap bertahan pada rata-rata lima persen,” ujarnya.
Ia mengatakan, pertumbuhan ekonomi Indonesia yang berkualitas didukung oleh penurunan angka pengangguran, kemiskinan, penurunan rasio Gini, dan tingkat inflasi yang terkendali. Rasio Gini adalah ukuran ketidakmerataan atau ketimpangan agregat (secara keseluruhan) yang angkanya berkisar antara nol (pemerataan sempurna) hingga satu (ketimpangan yang sempurna).
Gibran juga meyakini suatu saat nanti Indonesia akan menjadi raja energi hijau dunia dengan mengembangkan biodiesel, bioavtur dari sawit, dan bioetanol.
Performa Gibran selama debat perdana cawapres 2024 rupanya membuat banyak netizen terkaget-kaget. Gibran merupakan cawapres termuda dan pengalaman politiknya terbilang masih ‘hijau’ di antara dua kandidat lainnya. Namun, di panggung debat, Gibran mampu memaparkan gagasannya, dan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diberikan. Bersama Prabowo Subianto, Gibran mengatakan, ia juga akan melanjutkan pemerataan pembangunan yang tak lagi “Jawa Sentris”.
Pantauan VOA menunjukkan, topik ‘Gibran’ merajai jejeran trending di X. Tidak hanya itu, bahkan nama-nama panggilan netizen ke Gibran juga turut masuk jejeran trending. Misalnya ‘El Sulfat’ dan ‘Samsul’.

Sementara itu, cawapres nomor urut 3 Mahfud MD memulai visi misinya dengan menghabiskan waktu sepanjang hampir 20 detik untuk mengucapkan selamat Hari Ibu, sebelum melanjutkannya dengan mengatakan, “Dan sesudah ini kita lanjutkan pengabdian kita kepada Ibu Pertiwi.”








