Kupat Pekauman bukan sekadar pesta kuliner, melainkan bagian dari rangkaian ibadah warga setempat. Usai menunaikan Salat Idulfitri, masyarakat melanjutkan dengan puasa sunnah enam hari di bulan Syawal. Tradisi kupatan kemudian menjadi penutup sekaligus momentum kebersamaan.
Tokoh masyarakat Pekauman, Ustadz Mokhamad Zaenuri, menegaskan bahwa tradisi ini telah menjadi identitas religius warga. “Setelah puasa Ramadan, warga melanjutkan dengan puasa enam hari di bulan Syawal, barulah tradisi ini digelar. Ini sudah menjadi tradisi turun-temurun masyarakat Pekauman,” jelasnya.








