Politik Amerika diakui memiliki daya tarik cukup tinggi, ditambah dengan berbagai analisis terkait hubungan kedua negara ke depan.
WASHINGTON | MDN – Komunitas mahasiswa yang belajar ilmu Hubungan Internasional (HI) di berbagai perguruan tinggi Indonesia, menjadikan kembalinya Trump ke kursi kepresidenan Amerika sebagai bagian dari diskusi mereka. Bagi para calon diplomat muda ini, politik Amerika diakui memiliki daya tarik cukup tinggi, ditambah dengan berbagai analisis terkait hubungan kedua negara ke depan.“Teman-teman di twitter, di Indonesia, di X sekarang nyebutnya, cukup ramai membahas terkait Trump, karena kebijakan dari Trump yang cukup mengejutkan untuk teman-teman HI,” kata Karen Ainun Jayatri, mahasiswa HI Universitas Amikom, Yogyakarta.
Beberapa yang ramai dibahas adalah keputusan Trump yang membawa Amerika keluar dari Perjanjian Iklim Paris dan WHO, serta posisi kebijakan yang dianggap cukup proteksionis untuk kepentingan dalam negeri Amerika.
Namun lebih dari itu, bagi para mahasiswa yang juga bagian dari gen Z ini, bukan hanya pilihan kebijakan itu saja yang menarik, tetapi cara Trump menyampaikan keputusan yang cenderung lugas dan menghindari kata-kata diplomatis berlebih juga mendapat perhatian.
Muh Zulhamdi Suhafid, mahasiswa Hubungan Internasional UIN Alauddin, Makassar, Sulawesi Selatan menyebut, diplomasi dalam konteks hubungan internasional tidak selalu harus menggunakan negosisasi atau kalimat formal. Bahasa yang sederhana, frontal, bahkan kontroversial adalah juga bagian dari diplomasi itu. Dalam kaitan Trump, pilihan kata itu menjadi bagian dari gaya kepemimpinannya untuk melakukan diplomasi internasional.
“Saya melihat, gaya bahasa yang dilontarkan Presiden Trump pada saat dilantik, pada 20 Januari kemarin, merupakan upaya untuk memerlihatkan keagresivitasannya. Agresifnya seorang Presiden Amerika yang terpilih,” kata Zulhamdi.
Soal pilihan kosa kata dari Trump ini juga menarik bagi James William Kusumawikan, mahasiswa HI Universitas Diponegoro, Semarang, Jawa Tengah. Dia memberi contoh sejumlah aksi politisi dunia yang tidak biasa, tetapi justru mendapat sorotan khusus.
“Itu saya kira saat ini di dunia internasional justru malah ter-spotlight dan memberikan antitesa kepada para politisi yang biasanya bermulut manis,” kata James.
Dia menyebut, Presiden Argentina Javier Milei, yang dikenal sebagai Trump yang kedua, sebagai tokoh dengan karakter komunikasi yang sama. Milei secara mengejutkan mampu membawa ekonomi Argentina kembali positif, setelah luluh lantak sepanjang penguasa sebelumnya.
“Ini mungkin dilihat dunia internasional sebagai suatu hal, dimana kita butuh pemimpin yang realistis, clear penyampaiannya, tidak berbelit-belit dan pro rakyat,” tambahnya.
Di era di mana komunikasi lansung terjadi antara tokoh dan masyarakat melalui media sosial, lanjut James, pilihan kosa kata politisi yang apa adanya lebih mudah dipahami. Tanpa perantara media arus utama, yang bisa jadi menyaring berbagai pernyataan itu agar lebih sesuai, pernyataan atau pesan yang lugas lebih mudah diterima gen Z.
Alasan Trump ketika mengumumkan rencananya untuk keluar dari WHO adalah terkait penanganan COVID, menjadi contoh yang disebut James sebagai komunikasi lugas, tanpa berupaya membalut langkah itu dengan bahasa diplomasi yang halus.
Satu hal yang dicatat Rasya Ihza Maulavi, mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, adalah bahwa pilihan untuk berbicara lugas dalam diplomasi ini, ternyata menarik perhatian publik.
“Menurut saya cukup menarik, bagaimana seorang Donald Trump ini bisa menyihir audiences-nya atau pendukungnya dengan kata-kata yang cenderung treatment-nya agak berbeda dengan beberapa pemimpin dunia lainnya,” ujar Maulavi.
Dia membandingkan dengan politisi Indonesia yang cenderung menggunakan kata-kata yang halus, sementara Trump menggunakan kata-kata yang lebih singkat, lebih sederhana dan lebih mudah dipahami.
Menurut Muh Zulhamdi Suhafid, gaya diplomasi Trump ini akan menjadi tantangan bagi Indonesia.
“Indonesia harus melakukan diplomasi yang adaptif, harus mampu membaca kondisi,” kata dia.
Daya tarik Trump di kalangan anak muda, tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga di Amerika sendiri. Kantor berita AFP melaporkan, dalam Pilpres November 2024, 49 persen pemilih laki-laki muda berusia 18-29 tahun condong ke Trump. Angka ini merupakan peningkatan signifikan, karena sebelumnya anak muda selalu disebut lebih condong ke kelompok kiri.
AFP juga menyebut, popularitas itu didorong antara lain oleh tampilnya Trump dalam konten-konten yang memiliki pasar anak muda, seperti podcast “Joe Rogan Experience”. Podcast semacam ini memotivasi pemilih laki-laki muda untuk memberikan suara, kata Kathleen Dolan, ilmuwan politik di University of Wisconsin, Milwaukee.











