Kedua, karena konsumsi masyarakat — terutama dari kalangan menengah atas dan menengah bawah — yang cenderung melambat. Menurutnya, konsumsi masyarakat yang tumbuh tinggi pada saat ini hanya berasal dari kalangan masyarakat atas saja, sementara kalangan masyarakat bawah tetap stabil.
“Kelas menengah mengalami gelombang PHK, gelombang kenaikan harga dan sebagainya itu melandanya bukan ke kelompok 40 persen ke bawah, tetapi kelas menengah, mau menengah ke bawah atau menengah ke atas. Itu makanya spending mereka juga turun,” kata Hendri.
“Jadi kelas menengah itu mereka tidak ada penambahan spending, sementara ada tekanan dari sisi pajak juga, itu berbagai macam pajak yang ditekankan di sini. Jadi artinya ini hanya kelas atas sekarang ini (yang tumbuh konsumsinya). Pada kelas menengah yang tadinya (kontribusi konsumsi) 40 persen di tengah, dan 40 persen di paling bawah, jadi itu totalnya 65 persen-70 persen,” jelasnya.
“Sehingga untuk kuartal III dan IV kita khawatirkan akan ada tekanan lagi, dengan adanya nilai tukar yang akan bertahan di level Rp16.000, artinya harga-harga bahkan komoditas pangan itu harganya akan tinggi. Walaupun inflasinya dipotret tidak tinggi, tetapi inflasi pangan yang ada di kelompok bawah itu sangat tinggi,” tambahnya.
Lebih jauh, Hendri berpesan jika tidak ingin perlambatan ekonomi merembet ke kuartal III dan IV, pemerintah dianggap perlu menciptakan sumber atau driver ekonomi baru. Namun, ia menilai rasanya sulit untuk dilakukan dari sisi belanja pemerintah, mengingat pemerintahan sudah memasuki akhir masa jabatannya.
“Kemudian kalau kita melihat bagaimana investasi, saya rasa yang menarik adalah pilkada di November. Jadi tetap orang akan menunggu dulu, apakah investasinya itu akan investasi di tahun ini atau nanti sekalian saja di tahun depan. Kalau kita hitung sebenarnya investasi kita cukup tinggi, tetapi itu ada di hulu, hanya sektor tambang terutama, tetapi investasi di yang lain-lain itu hampir tidak ada gerakan yang cukup signifikan. Makanya kalau menurut kami kira-kira pertumbuhan itu akan menuju ke lima persen agak susah, mungkin antara 4,9-5 persen untuk tahun ini,” pungkasnya. [Red]#VOA









