BI Katakan Sedang Upayakan Rupiah Turun di Bawah Rp16.000

  • Whatsapp
ILUSTRASI - Rupiah masih melemah di kisaran Rp16.200-Rp16.300, Rabu, 8 mei 2024. (Yusuf Ahmad/Reuters)

Pertama, menariknya imbal hasil (yield) obligasi pemerintah Indonesia. Berdasarkan data BI, yield Surat Berharga Negara (SBN) 10 tahun naik ke level 6,94 persen per 8 April. Kedua, menurunnya premi risiko yang ditunjukkan dengan premi credit default swap (CDS) lima tahun yang turun menjadi 69,9 per 7 Mei 2024, yang sebelumnya bergerak di atas 70.

Faktor ketiga, adalah kinerja perekonomian Indonesia yang terjaga dan ini dibuktikan dengan pertumbuhan ekonomi nasional pada triwulan-I yang tumbuh mencapai 5,11 persen. Lalu, faktor terakhir adalah komitmen BI untuk tetap menstabilkan nilai tukar rupiah.

Bacaan Lainnya
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Aliran Modal Asing Masuk

Dalam kesempatan itu, Perry juga melaporkan masuknya aliran modal asing (capital inflow) semenjak BI memutuskan untuk menaikkan suku bunga acuannya pada April lalu ke level 6,25 persen. Ia memaparkan terdapat aliran modal asing ke Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) pada minggu pertama dan kedua pada Mei 2024 dengan total Rp19,77 triliun.

Selain itu, capital inflow juga terjadi pada Surat Berharga Negara (SBN) dalam dua minggu pertama pada bulan ini yang mencapai Rp8,1 triliun.

Namun, capital outflow atau aliran modal asing yang keluar masih terjadi di pasar modal Indonesia atau pasar saham, yang mencapai Rp5,03 triliun.

“Ini membuktikan bahwa respons kebijakan kenaikan BI Rate maupun kenaikan suku bunga SRBI itu memang berhasil menarik masuk aliran modal asing yang pada minggu-minggu berikutnya khususnya sejak menjelang Ramadan, dan lebaran itu terjadi outflow. Jadi, ini membuktikan bahwa pasar, investor dalam dan luar negeri itu menyambut baik keputusan kenaikan BI Rate dan juga kenaikan SRBI. Ini sesuai dengan arah kita, bahkan perkembangannya lebih baik,” tegasnya.