Sejumlah pakar berpendapat pemerintah harus serius dalam melakukan diversifikasi pangan agar Indonesia tidak terlalu bergantung pada komoditas beras.
JAKARTA ( DN ) – Diversifikasi pangan kembali digaungkan oleh berbagai pihak, ketika harga beras melambung tinggi pada akhir-akhir ini. Sejumlah pejabat daerah bahkan kerap meminta masyarakat untuk mengkonsumsi komoditas pangan selain beras, seperti singkong.Pengamat pangan Khudori mengatakan sebenarnya pemerintah sudah mulai melakukan program diversifikasi pangan sejak 1960-an. Namun, katanya, program ini cenderung tidak serius dan salah kaprah, sehingga yang terjadi adalah program tersebut gagal, dan Indonesia memiliki ketergantungan tinggi pada komoditas beras.
Ia mencontohkan praktik diversifikasi pangan yang mengandalkan terigu.
“Aneka pangan berbasis terigu, berbasis gandum, yang itu impor. Itu yang saya sebut salah kaprah. Idealnya diversifikasi itu terjadi pada pangan yang berbasis produksi lokal, produksi kita sendiri, bukan berbasis pada impor,” ungkap Khudori ketika berbincang dengan VOA.








