Lebih jauh ia menilai bahwa penerapan kebijakan WFO bagi sebagian ASN selama dua hari diyakini bisa mengurai kepadatan volume lalu lintas pada puncak arus balik nanti.
Pengamat Transportasi Djoko Setijowarno pun mengakui bahwa manajemen arus mudik dan balik lebih baik daripada tahun lalu.
Menurut Djoko, kemunculan travel gelap ini sebagai dampak dari gagalnya pemerintah menyediakan sarana transportasi publik di daerah.
“Pemerintah gagal menyediakan angkutan umum di daerah, yang baru bisa (berhasil) itu angkutan umum antar kota, kereta, bus AKAP, travel antar kota. Tetapi ketika di desa tidak ada angkutan lagi, dan di perkotaan sudah minim, ya dampaknya travel gelap muncul,” ungkap Djoko.
Menurutnya, kemunculan travel gelap bukan hanya pada masa lebaran saja, tapi hampir setiap hari dan pada berbagai rute. Ia mengatakan, kehadiran mereka dikarenakan tingginya permintaan dari masyarakat. Ia pun menyayangkan bahwa pemerintah tidak membenahi angkutan umum di daerah, dan memberantas travel gelap.
“Bahkan travel gelap dari Jakarta-Madura ada setiap hari, tarifnya sama dengan bis. Cuma bedanya mereka dijemput di tengah kota, lalu diantar sampai ke tempat tinggal, kalau bus kan kita harus ke terminal dan tidak sampai rumah masing-masing,” katanya.
“Yang penting itu adalah bagaimana pemerintah membenahi angkutan umum di daerah, itu kata kuncinya. Munculnya travel gelap karena transportasi di daerah itu buruk. Jadi itu tidak bisa diberantas, karena ada kebutuhan. Kalau dulu travel gelap bisa diberantas, sekarang kalau diberantas terus dibalik tanya ke pemerintah mau naik apa di daerah? Bingung jawabnya pemerintah,” pungkasnya. [Red]#VOA









