China membantah tuduhan terakhir itu, dan menyalahkan kapal-kapal Filipina atas tabrakan tersebut.
Mark Montgomery, pakar senior di Yayasan untuk Pertahanan Demokrasi, mengatakan, “China adalah ancaman nyata dan serius bagi Filipina, dan Filipina memahami bahwa Amerika Serikat adalah pilihan yang tepat sebagai mitra ekonomi dan keamanan,” papar dia.
Beberapa pihak memandang kerja sama Amerika Serikat-Filipina yang diintensifkan sebagai langkah balasan langsung terhadap manuver maritim China, yang menghalangi akses bagi perahu-perahu Filipina untuk masuk ke zona ekonomi eksklusif Filipina sendiri.
Gilberto Teodoroc Sekretaris Pertahanan Nasional, Filipina, mengatakan, “Kapal militer palsu menyamar sebagai kapal Penjaga Pantai dan kapal milisi maritim di kawasan laut Filipina Barat. Mereka sangat agresif dalam operasi informasi melawan Filipina,” kata Teodoro.
China merespons peningkatan kerja sama Amerika Serikat-Filipina ini dengan mengatakan bahwa seharusnya tidak ada perjanjian militer yang menyasar pihak ketiga, atau memperburuk ketegangan regional. [Red]#VOA








