Sulitnya mengurai permasalahan sampah plastik impor, menurut Daru, tidak lepas dari minimya upaya pengumpulan sampah domestik atau di tingkat rumah tangga.
“Kondisi pengumpulan sampah di dalam negeri kita itu masih sangat minim, rata-rata nasional hanya 30 persen sampah rumah tangga dan sejenis rumah tangga yang terlayani oleh sistem pengumpulan sampah yang disediakan pemerintah. Jadi, memang supaya kita bebas impor, kita harus memaksimalkan pengumpulan sampah di dalam negeri,” jelas Daru lebih lanjut.
Staf pengajar di Departemen Anatomi dan Departemen Ilmu Kesehatan Masyarakat, Universitas Surabaya, Adhimas Setyo Wicaksono, mengatakan masyarakat yang tinggal di sekitar tempat pembuangan sampah berisiko terkena penyakit infeksi saluran pernapasan akut atau ISPA, pencernaan, gangguan kulit, keracunan, hingga kanker.
Warga, kata Adhimas, perlu mendapatkan pemahaman yang cukup tentang risiko berada di lingkungan yang tidak bersih, terlebih bila bersentuhan dengan sampah tanpa alat perlindungan diri yang memadai, seperti masker, sarung tangan, dan sepatu karet.
Adhimas menambahkan, dampaknya bisa meluas tidak hanya pada individu, tetapi juga pada kesehatan lingkungan sekitar, alam dan membuat atmosfer Bumi semakin menipis.
“Kalau sampah yang didaur ulang sebagai bahan baku untuk pembakaran, untuk memasak, asapnya itu juga bisa menyabebkan suatu polutan yang akhirnya bisa mengkontaminasi makanan yang sedang kita masak. Sehingga kalau dikonsumsi ke manusia bisa menimbulkan suatu penyakit, bisa penyakit apa pun,” kata Daru.
Daru menambahkan, pemerintah sebetulnya telah memperketat pengaturan pembatasan masuknya sampah impor ke Indonesi. Namun bila pengawasan di pintu-pintu masuk tidak dijaga dengan baik, sampah plastik impor tetap akan memenuhi wilayah Indonesia yang dijuluki sebagai negara kedua penyumbang sampah plastik terbanyak di lautan.
Sejak 2018, China menghentikan impor sampah plastik dari berbagai negara di Eropa dan Amerika, sebagai dampak munculnya berbagai masalah kesehatan. Sampah dari negara maju yang semula dikirim ke China, kini membanjiri negara-negara berkembang di Afrika, Amerika Selatan, dan Asia, termasuk Indonesia. [Red]#VOA








