Sementara pertemuan-pertemuan (Prabowo dengan para kepala negara) ini menyoroti isu-isu pertahanan, sesi-sesi tersebut mencakup isu-isu bilateral dan geopolitik yang lebih luas.
Prabowo, yang tinggal di beberapa negara di masa mudanya, fasih berbicara dalam bahasa Inggris, Belanda, Jerman, dan Prancis.
Indonesia sebagai kekuatan menengah yang berpengaruh
Calvin Khoe, analis utama di FPCI Research & Analysis, menulis dalam East-West Center Asia-Pacific Bulletin bahwa “Indonesia memiliki beberapa keunggulan komparatif sebagai negara yang aktif dan membedakannya sebagai negara dengan kekuatan menengah.”
Ia menambahkan bahwa Prabowo “akan berusaha menjadikan Indonesia sebagai negara dengan kekuatan menengah yang lebih berpengaruh.”
Dalam wawancara dengan Newsweek, Khoe menunjukkan niat Prabowo yang mengatakan bahwa Indonesia “harus menjadi lebih tegas dalam kebijakan luar negeri, secara bilateral atau multilateral melalui keterlibatan Indonesia di PBB, OKI (Organisasi Kerja Sama Islam), ASEAN, dan lebih tanggap dalam membangun realitas geopolitik di kawasan.”
Namun, Dinna Prapto Raharja, pendiri Synergy Policies yang berkantor pusat di Jakarta, mengatakan bahwa ia memperkirakan (pemerintahan) Prabowo akan menunjukkan antusiasme yang lebih rendah terhadap ASEAN, berbeda dengan Jokowi yang mengatakan bahwa blok Asia Tenggara adalah landasan kebijakan luar negerinya.
“Jadi, bagi seseorang yang cepat dan pragmatis seperti Prabowo, saya rasa dia tidak akan cukup sabar untuk menelusuri celah-celah (diplomasi) di ASEAN. Kita telah melihat dalam 10 tahun terakhir betapa terbatasnya sumber daya ASEAN untuk benar-benar bisa memberi pengaruh di tingkat negara,” sebutnya.
“ASEAN dalam kerja sama antarbangsa, saya rasa akan tetap penting. Namun saya rasa dia akan ingin mengambil jalan pintas untuk memastikan ketepatan waktu yang lebih efisien,” imbuh Dina.
Menyelesaikan konflik Israel-Palestina
Prabowo telah menjadikan konflik Israel-Palestina sebagai isu utamanya, dengan menyatakan pada Konferensi Internasional tentang Gaza di Yordania dan Dialog Shangri-La di Singapura bahwa Indonesia akan mendukung, berkontribusi, dan memfasilitasi semua upaya menuju solusi dua negara.
Upaya ini dapat mencakup pengerahan pasukan penjaga perdamaian, bantuan lewat udara, dan kapal rumah sakit, beserta personel medis untuk mengelola rumah sakit lapangan di Gaza.









