LAMONGAN | DN – Atlet dayung berbakat binaan Persatuan Olahraga Dayung Seluruh Indonesia (PODSI) Kabupaten Lamongan, Muhammad Azil Dwi Prastya, resmi mengantongi surat rekomendasi untuk berlaga dalam Seleksi Kejuaraan Nasional (Seleknas) cabang Stand Up Paddle (SUP).
Kendati kelengkapan administrasi telah terpenuhi, langkah sang atlet menuju panggung nasional masih dibayang-bayangi kendala operasional, biaya keberangkatan, dan dispensasi pendidikan.
Kepastian kepesertaan Azil tertuang dalam Surat Rekomendasi Nomor 22/PD-PODSI-LA/VII/2026 yang ditandatangani oleh Ketua Umum PODSI Lamongan, M. Lutfi Ludianto, beserta Sekretaris Fatkhur Rokhman. Rekomendasi resmi ini menjadi syarat mutlak agar Azil dapat bertanding membawa nama daerah di kancah nasional.
Namun, Azil mengungkapkan realitas klasik yang kerap dihadapi para atlet daerah. Menurutnya, skema pembiayaan dari pengurus pusat umumnya baru menanggung kebutuhan atlet setelah tiba di lokasi pemusatan latihan atau lokasi kejuaraan. Sementara biaya akomodasi awal, transportasi menuju lokasi, hingga penyediaan alat pribadi kerap dibebankan secara mandiri atau bergantung pada kepedulian klub lokal.
“Rekomendasi dari pusat biasanya baru mengover biaya setelah atlet sampai di lokasi. Biaya keberangkatan dan perlengkapan awal sering kali harus kami usahakan sendiri. Selain itu, kami sangat membutuhkan jaminan dispensasi resmi agar status sekolah atau kuliah tidak terganggu selama membela Kabupaten Lamongan,” ungkap Azil saat dikonfirmasi, Jumat (31/7/2026).
Azil juga memberikan masukan konstruktif terkait pola pendampingan pemerintah daerah terhadap atlet lokal. Ia menyoroti fenomena di mana perhatian atau apresiasi Pemda baru hadir setelah atlet sukses memenangkan medali, padahal dukungan di masa persiapan dan awal keberangkatan jauh lebih krusial.
Menanggapi kondisi tersebut, Ketua Umum PODSI Lamongan, M. Lutfi Ludianto, menegaskan bahwa Azil merupakan aset potensial yang diproyeksikan menjadi duta olahraga air Lamongan. Kendati demikian, lahirnya prestasi yang berkelanjutan mustahil terwujud tanpa sinergi dan kepedulian nyata dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lamongan.
“Kami prihatin karena atlet memiliki potensi besar, tetapi masih terkendala fasilitas, dana pembinaan, dan akomodasi keberangkatan. PODSI mendorong Pemkab Lamongan segera memberikan perhatian konkret agar atlet tidak terbebani masalah biaya dan sarana saat berlaga,” tegas Lutfi.
Ia menambahkan, intervensi dan dukungan penuh dari Pemkab Lamongan akan menjadi suntikan motivasi moral sekaligus finansial yang sangat berarti bagi atlet dalam menjaga fokus bertanding serta menjunjung tinggi nilai sportivitas.
Menjelang pelaksanaan Seleknas, Azil menyatakan memilih menyerahkan seluruh tata kelola administratif dan logistik kepada pengurus klub agar ia bisa berkonsentrasi penuh pada persiapan teknis.
“Saya serahkan ke klub saja. Saat ini saya fokus berlatih dan bertanding. Mohon doanya agar bisa meraih prestasi terbaik untuk mengharumkan nama Kabupaten Lamongan,” pungkasnya. [NH]








