Rakyat Suriah menyambut 2025 dengan harapan situasi terus membaik setelah mereka terbebas dari cengkeraman rezim Presiden Bashar al-Assad. Warga Indonesia di Damaskus, ibu kota Suriah, melaporkan bahwa mereka melihat orang-orang umumnya lebih bebas dan mengaku bahagia.
MDN – Seperti apa Damaskus sepeninggal Presiden Bashar al-Assad? “Lebih bebas,” ujar Tubagus Muhammad Duby.Dikenal sebagai Habibi, mahasiswa Indonesia tahun keempat jurusan Kajian Islam di ibu kota Suriah ini menambahkan bahwa selama ini ia melihat orang-orang Suriah seperti merasa tertekan. Sekarang, orang-orang itu tampak lebih bahagia. Dulu, lanjutnya,
“Tidak ada kesempatan untuk berbicara. Ya mereka nggak pernah ngomongin hal tentang pemerintahan, tentang politik. Dan juga dulu nggak boleh bertransaksi dengan dolar. Jika ada warga lokal yang ketahuan memegang dolar, itu merupakan sebuah kriminal. Bahkan kita as a foreigner juga dilarang membawa lebih dari 1.000 dolar di dalam kantong. Kalau misalkan lebih dari itu, kita juga bisa ditangkap. Dan kita untuk bertransaksi menukar dolar ke lira harus di bank ataupun di tempat-tempat yang memang dilegalkan pemerintah. Kalau nggak, itu kita bisa ditangkap.”
Sekarang, kata Habibi, 22 tahun, orang di Suriah semakin terbiasa dengan dolar. Ini sangat kontras dengan sebelumnya yang bahkan,
“Kita nyebut dolar aja nggak dolar gitu. Sampai kita samarkan ijo ataupun es.”
Sekarang, kata Habibi lagi, orang-orang juga semakin menikmati kebebasan berpendapat.
“Di sosial media, mereka juga berani banget untuk memposting apapun yang mereka mau. Dulu nggak pernah saya lihat teman-teman, orang lokal, itu upload tentang Pak Kumis (sebutan untuk Presiden Assad) atau tentang seperti itu di media sosial. Sekarang mereka benar-benar kayak langsung terang-terangan gitu.”









